馃搳

4 Pelajaran Keuangan dari Income yang Naik-Turun (UMR, Naik 20x, Balik UMR Lagi)

Ringkasan

Cerita income dari 2 juta, tembus 70 juta, lalu balik ke UMR. Empat pelajaran soal lifestyle inflation, income sebagai kapasitas/pilihan, membangun income stream, dan kenapa investasi jadi pelajaran paling penting.

Tanggal
July 24, 2026

Edisi 24 Juli 2026 路 9 menit baca

Halo investor,

Di tulisan ini saya mau sedikit menceritakan pengalaman income saya yang berubah-ubah. Dari 2 juta sebulan, tembus 70 juta sebulan, dan sekarang salah satu income utama tersebut balik lagi ke 3 juta sebulan. Buat yang pernah lihat konten saya "1M dari YouTube", kurang lebih itulah lika-liku memiliki income di area yang fluktuatif.

Income dari YouTube
Income dari YouTube

Kalau investor belum tau, income saya yang digunakan untuk berinvestasi dan kebutuhan sehari-hari itu awalnya dimulai sebagai konten kreator di YouTube. Saat ini memiliki ~200rb Subscribers yang saya mulai dari tahun 2019. Dari situ saya sadar kalau konten kreator itu mirip seperti bisnis: ada pasang & surutnya.

Dari naik-turun income berkali-kali lipat tersebut, disini akan saya jabarkan 4 pelajaran penting tentang uang yang saya dapat, terutama cara mengelolanya. Kalau investor lebih suka versi video, sudah saya bahas di YouTube juga.

馃憠 Klik disini untuk menonton versi YouTube-nya (akun utama yang dibahas bukan akun Gh ya).

Namun bagi yang lebih suka membaca ala Newsletter Gh, silakan dilanjut di sini 馃榿.

Pelajaran 1: Lifestyle Inflation Itu Nyata

Lifestyle Inflation, hal yang tidak terlihat tapi sebenarnya paling berdampak. Saat income dari UMR naik ke 8 juta, lalu tembus 2 digit, tanpa sadar pola konsumsi ternyata ikutan naik juga.

Dulu kalau mau beli barang, paling dimasukkan keranjang atau wishlist saja, sekarang lihat langsung checkout. Makan tanpa lihat harga. Healing rutin karena merasa "toh ada uang". Dan biasanya jebakan utama adalah cicilan: mulai berani nyicil entah kendaraan ataupun KPR.

Seharusnya, income naik itu BUKAN berarti pengeluaran harus ikutan naik. Kalau tidak terkontrol, justru lifestyle akan naik lebih cepat dibandingkan income kita. Apalagi kalau kena virus paling toxic di keuangan, apakah itu? Tentu saja GENGSI.

Satu yang cukup bikin saya kaget adalah banyak orang dengan gaji 2 digit tetapi justru lebih kacau finansialnya dibandingkan yang UMR tapi disiplin.

Tidak perlu jauh-jauh, istri saya sendiri sebelum kita menikah dapat dikatakan memiliki income cukup tinggi (bahkan sempat lebih tinggi dari saya saat itu 馃槀), tetapi karena tidak paham cara mengaturnya, beberapa tahun kerja pun dapat dikatakan tabungannya "segitu-segitu saja" yang sangat tidak sebanding dengan income dia sebenarnya.

Seringkali yang UMR punya cashflow lebih sederhana dibandingkan gaji besar dengan cashflow kompleks, apalagi untuk pengeluaran-pengeluaran yang sebenarnya tidak perlu. Bayangkan ada orang punya BMW tapi dia bingung bayar pajak mobilnya. Kan lucu. Rumah ada, mobil bergengsi, lifestyle oke, tapi bayar hal wajib saja sulit. Kenapa? Karena cashflow yang buruk. Apalagi kalau beli semua itu karena gengsi, "ngasih makan gengsi mah ga ada abisnya brow."

Satu yang cukup terasa buat saya sendiri adalah saya pernah trial dalam satu bulan menyisakan "uang kebutuhan" HANYA 2 juta saja, dimana sisanya tentu sudah saya sisihkan di awal untuk investasi dan beberapa hal lain seperti kebutuhan ortu, listrik, dsb. Ternyata setelah berjalan satu bulan sampai gajian berikutnya, uang 2 juta itu CUKUP.

Cobalah lagi saya trial menyisakan 10 juta (dengan sisihkan awal tetap ya), dan ternyata sampai gajian berikutnya setelah satu bulan, 10 juta tersebut HABIS-HABIS juga.

Bagaimana logikanya disaat saya bisa CUKUP dalam 1 bulan sebesar 2 juta, tapi dinaikkan 5x lipat ke 10 juta sama-sama habis? Setelah saya recap pengeluaran (saya menggunakan aplikasi money manager, investor bisa download gratis di HP), ternyata ketika memegang 10 juta itu, saya jadi lebih banyak jajan dan beli hal-hal yang sebenarnya tidak perlu.

Setelah saya renungkan lagi, kalau di tabungan terutama ATM yang cukup mudah diambil dan diberikan sisa banyak, saya punya kecenderungan psikologi merasa "oh ada uangnya, beli ah". Sedangkan kalau sejak awal sudah "DICUKUPKAN", ya selama satu bulan sampai gajian berikutnya (kasarnya) saya akan beradaptasi dan menyesuaikan "batasan" tersebut.

Maka untuk saya pribadi, cara untuk "mengakali" lifestyle inflation ini ada pada porsi keuangan setelah gajian. Saya selalu SISIHKAN lalu sisakan. Sisihkan di awal untuk hal penting kaya investasi, kebutuhan wajib (cicilan, kewajiban, dll), baru sisakan agar CUKUP saja. Alhasil uang di ATM saya tiap bulan seringkali disisakan tidak terlalu besar, hanya secukupnya saja, sedangkan buat yang lain bisa lebih besar, dan itu alasan rekening investasi saya bisa naik lebih cepat.

Pelajaran 2: Income Naik = Kapasitas yang Seharusnya Naik

Income naik itu seharusnya bisa memberikan kita opsi/PILIHAN dan bukan menambah konsumsi. Saya selalu merasa kalau uang sebagai tools dan bukan tujuan, maka poinnya adalah bagaimana "memanfaatkan" uang tersebut agar bisa membantu kita memiliki alternatif-alternatif yang tersedia.

Contoh: dulu untuk bisa berhemat, kalau cari bahan makanan seringkali dari pasar 1 ke pasar 2 dst untuk cari harga termurah, bahkan selisih beberapa ribu saja bakal dihitung. Dengan "kapasitas yang meningkat", mau belanja di tempat yang lebih nyaman seperti supermarket pun jadi tidak masalah, yang penting bahan makanan sama-sama bagus & sehat.

Atau bahkan alih-alih kita yang belanja sendiri, sekarang saya punya opsi untuk belanja online dan dikirim ke rumah. Tentu dari sisi harga pasti akan lebih mahal, tapi setidaknya saya menukar uang tersebut untuk WAKTU yang seharusnya dipakai pergi ke pasar. Waktu tersebut bisa dipakai untuk kerja, belajar, atau sekedar quality time bersama keluarga.

Ini yang saya sebut "membeli waktu". Dulu tukar waktu untuk jadi uang, ketika kapasitas meningkat, bisa menukar uang jadi waktu.

Contoh lain agar terbayang: misal kita ingin liburan dari Jakarta ke Bali. Menggunakan jalur darat tentu dari segi biaya jauh lebih murah, tapi tentu juga butuh waktu jauh lebih lama. Bagi yang ingin cepat, kita bisa menukar uang lebih untuk mengubah jalur darat dan menggunakan pesawat yang menghemat waktu. Bahkan ketika waktu tetap sama (pesawat), tapi kita ingin KENYAMANAN yang lebih, maka menggunakan pesawat pun alih-alih ekonomi, kita bisa upgrade jadi bisnis ataupun first class.

Itulah "kegunaan sebenarnya dari uang" untuk memberikan kita alternatif.

Tentu selain masalah konsumtif, kapasitas juga bisa dipakai untuk investasi ke diri sendiri. Kursus skill, buku, mentor. Bahkan dari sisi kesehatan misal, dengan kapasitas lebih kita bisa menambah vitamin, suplemen agar "kualitas kehidupan" bisa lebih baik.

Investasi terbaik mau bagaimanapun akan kembali ke diri sendiri, dan seharusnya ketika income naik + kapasitas juga ikut naik, pertumbuhan lainnya (terutama finansial) akan ikut bertumbuh secara eksponensial, yang juga berhubungan dengan pelajaran ke-3.

Pelajaran 3: Income Stream Baru

Ini salah satu yang jadi "penyelamat" saat income utama drop (YouTube). Walau income saya kembali ke level UMR, saya masih bisa hidup layak. Kenapa? Karena tentu saja itu bukan satu-satunya income yang saya punya.

Hal ini tidak mungkin terjadi dalam semalam, semua perlu dibangun perlahan ketika income (masih) besar. Di awal saya berkata kalau konten kreator itu mirip dengan bisnis, ada pasang & surutnya. Algoritma berubah, audience bergeser, intinya hal tersebut seringkali di luar kontrol kita.

Nah dari hal tersebut lah saya akhirnya "membangun" income-income lain yang setidaknya bisa saya "kontrol". Saat ini saya memiliki beberapa income stream: YouTube Adsense (ini tentu masih berjalan), Affiliate & Referrals, Endorse & Sponsorship, Merch Retail, Hasil Return Investasi terutama Dividen, & tentu saja turunan dari Newsletter Gh yang investor baca yaitu produk digital investasi di ProfitWise.

Pelajaran pentingnya adalah: jangan hanya punya SATU sumber income, apalagi yang tidak bisa kita kontrol penuh. Kerja kantoran/karyawan pun sama, harus ikut aturan perusahaan (dan bisa di-layoff). Konten kreator harus ikut aturan platform. Pebisnis ecommerce harus mengikuti aturan seperti fee & komisi platform.

Apa yang bisa kita kontrol mandiri? Biasanya ada di bisnis & investasi, itu alasan kenapa Robert Kiyosaki membaginya dalam 4 kuadran, dan kuadran sebelah kanan adalah B & I, karena disitulah kita mengatur sendiri "permainannya".

Cashflow Quadrant Kiyosaki
Cashflow Quadrant Kiyosaki

Buat yang mau mulai berpindah ke kuadran kanan, jangan paksakan langsung banyak. Mulai dari 1 hal dulu, misal investasi di reksadana atau saham, dan double down dulu disana sambil merasa-rasa. Lanjut leverage pemahaman untuk mengasah skill yang ada, barulah cari layer lain untuk menambah income.

Di case saya: dari Self Employed (YouTube Konten Kreator), saya puter uangnya ke investasi, dan sembari membangun modal investasi agar terus menggulung (yang juga diajarkan di Ebook ProfitWise), saya mulai eksplorasi ke bisnis.

Karena cukup paham di saham, maka setidaknya dari sisi komponen keuangan lumayan paham, namun yang sulit dan harus dipelajari adalah bagaimana praktik & eksekusinya. Dari situlah pelajaran ke-2 masuk, dimana saya memiliki "kapasitas" untuk belajar dari kelas, workshop, dsbnya tentang berbisnis.

Salah satunya digital marketing. Mungkin investor bertemu dengan akun saya ini pun dari iklan yang ada di Sosial Media bukan? Dan bagaimana saya bisa membuat newsletter melalui email yang cukup ribet back-end dsbnya pun tentu saja hasil implementasi belajar tsb. Returnnya? Jangan ditanya 馃榿, itu alasan investasi leher ke atas adalah investasi dengan RoI tertinggi.

Untuk apa saya mencoba bisnis padahal investasi sudah jalan? Tentu semakin tinggi income, semakin tinggi juga leverage dari modal yang bisa menggulung di investasi, dan itulah kenapa investasi saya simpan di pelajaran terakhir.

Pelajaran 4 (PALING PENTING): Investasi

Ini tidak tergantikan. Mutlak, wajib, sangat berdampak. Tanpa investasi, kita akan selalu menukar waktu dan tenaga demi uang (kasarnya) sampai mati.

Dari beberapa cara di atas sudah saya jelaskan kalau investasi itu masuk ke fase awal saya SISIHKAN *income. Idealnya itu minimal 30% dari income*. Kalau bulan itu dapat income 10 juta, maka "SEHARUSNYA" 3 juta untuk investasi itu bisa dilakukan. Keadaan tiap orang berbeda, namun bedakan juga keadaan dan "keadaan" yang dibuat-buat sendiri (poin gengsi di atas).

Bahkan ketika income sedang tinggi-tingginya di case sampai 70 juta di atas, karena pengeluaran per bulan biasanya akan segitu-gitu saja, maka mayoritas saya sisihkan untuk investasi bahkan pernah sampai 80%!

Satu yang paling terasa dari investasi dan menurut saya "ajaib" adalah: ketika income turun seperti yang jadi bahasan topik ini dan income lain juga "masih proses". Disitu saya mulai narik kebutuhan dari tabungan investasi (walau ini ga baik ya, sebisa mungkin jangan, ini saya lakukan karena fase pembagian alokasi saat itu belum cukup baik karena tidak membuat dana darurat 馃槀), tapi anehnya setelah beberapa bulan saya rutin mengambil, totalnya kok GA NGURANG-NGURANG.

Dan memang itulah "kelebihan" dari investasi. Hasil investasi akan selalu kerja sendiri, dan tidak butuh saya selalu ada agar uang terus "bekerja", dan itulah efek compounding. Mulai terasa itu di sekitaran 2023-2024, berarti kalau dari awal saya investasi 2016, maka mulai memiliki impact setelah jalan 7 tahun+.

Juga setelah itulah saya baru "mulai berani" membagikan pemahaman saya menjadi sebuah produk (digital) Ebook ProfitWise: Metode FCDS-T di akhir tahun 2024. Saya bikin produk bukan modal nyobain 1-2 tahun, apalagi beberapa bulan dan langsung berkata bombastis.

Gh Portfolio sendiri butuh 3 tahun "merasa-rasa" sampai 2019 baru mulai serius pendataan, dan +5 tahun lagi (2024) untuk dijadikan sebuah produk. Kenapa? Tentu saja agar setidaknya pengalaman yang saya lewati bisa lebih banyak dan lebih relate ke banyak orang.

Dan investasi sendiri bukan soal nominal awal, tapi soal DISIPLIN dan WAKTU. Saya sendiri seperti yang pernah saya katakan di Podcast IDX, kalau saya mulai dulu kuliah dari modal 200-300 ribu saja per bulannya. Sampai income bertumbuh, semakin tumbuh juga modal yang bisa saya setor. Yang penting adalah membangun habit dahulu, dan habit akan menciptakan konsistensi.

Buat investor yang mau pelajari cara investasi saham fundamental (Metode FCDS-T) yang jadi salah satu fondasi keuangan saya, saya bahas lengkap di Ebook ProfitWise:

馃憠 Cek Metode Screening Saham Multibagger

Tujuan saya sharing ini tentu saja bukan untuk pamer. Masih banyak investor-investor bahkan di Newsletter Gh ini yang jauh lebih mapan. Bahkan ada yang pernah meminta bantu alokasikan asetnya nganggur sebesar 10 Miliar 馃槄 (saya ceritakan lain kali, rasanya sudah panjang sekali tulisan ini).

Maka sebenarnya kalau dilihat dari beberapa perjalanan ini, satu hal yang posisinya di atas investasi adalah literasi keuangan itu sendiri. Investasi adalah turunan dari pemahaman literasi keuangan, dan seringkali nominal besar pun tidak membuktikan kalau literasi keuangannya baik.

Gaji tinggi itu enak. Tapi investor sudah siap belum kalau suatu hari harus balik ke titik awal? Masih bisa hidup layak, atau panik karena tidak punya fondasi?

Saya tutup dengan satu reminder dari ayat yang rasanya sering muncul (terutama di belakang kaca mobil 馃槀): "Bersama kesulitan ada kemudahan", diulang 2x di Surah Al-Insyirah. Banyak yang berhenti di situ. Padahal ayat selanjutnya: "Apabila engkau telah selesai dari satu urusan, teruslah bekerja keras untuk urusan yang lain."

Bersyukur itu kunci ketenangan. Tapi terus berusaha dan belajar adalah tugas kita.

Stay Iqra.

Salam, Gh Portfolio

馃摡 Mau newsletter seperti ini rutin di email?

Kalau investor mau dapat tulisan seperti ini secara rutin, bisa join newsletter langsung di website GH ya.

馃憠 Kunjungi ghanifaza.com