馃

Anomali Saham Konglo: Mekanisme HSC dan Kenapa Pola Ini Layak Dicurigai

Ringkasan

Kenapa saham konglo melonjak di hari terakhir Mei, tepat sebelum keluar dari MSCI? Membedah bobot indeks, free float tipis (HSC), dan distorsi yang bikin angka IHSG jadi semu.

Tanggal
June 1, 2026

Edisi 1 Juni 2026 路 8 menit baca

Halo investor,

Ada satu hal yang aneh di Jumat kemarin (29 Mei), hari terakhir bursa di bulan Mei. Dan ini juga yang menjadi pertanyaan dari beberapa investor.

Anomali saham konglo
Anomali saham konglo

Apakah investor merasa hal yang sama?

Dimana "saham konglo" (terutama PP) yang sepanjang Mei ambruk sampai minus -50% lebih, tiba-tiba terbang di hari penutupan. Padahal besoknya di bulan Juni, aturan MSCI yang baru saja berlaku justru menendang saham-saham itu keluar dari indeks.

Pertanyaannya: kenapa sebuah saham bisa melonjak di hari terakhir, tepat sebelum dia dikeluarkan dari indeks global yang selama ini jadi alasan asing memegangnya?

DISCLAIMER: yang saya tulis di bawah ini adalah asumsi dan analisa bahan diskusi, bukan tuduhan atau rekomendasi. Kesimpulan silakan diterima sendiri-sendiri.

Pola yang Berulang: Konglo Naik, Big Bank Turun

Kalau investor perhatikan beberapa tahun terakhir, ada pola yang berulang. Ketika saham konglo naik, saham big bank turun. Inilah alasan kenapa narasi "fundamental is dead" cukup kental terdengar, karena yang dianggap "naik panggung" itu "saham konglo" dan bukan "saham funda". Disini saya pakai tanda kutip karena definisi orang bisa berbeda-beda, toh saya masih bingung apa itu "saham konglo", kenapa tidak bisa disebut "saham funda"? Padahal kalau "saham konglo" kita analisis pakai fundamental kan tetap "funda" juga 馃槄.

Namun yang menarik adalah di sepanjang bulan Mei, big bank hampir semuanya hijau, kecuali BMRI yang wajar karena dia membagikan dividen sebesar Rp377. Kalau kita input ke harga saham di fase awal BMRI, itu pun termasuk hijau (4.200 + 377 = 4.577). Dan di periode yang sama, "saham konglo" justru drop sangat dalam, bahkan rata-rata minus di atas -50%! Ini pula yang akhirnya memberikan penurunan drastis untuk IHSG di bulan Mei lalu.

Disaat IHSG drop dalam, big bank justru naik. Bukankah menarik?

Tapi, di Jumat kemarin polanya berbalik dalam satu hari (dan di ujung waktu bursa). Saham konglo melonjak, big bank dan big cap lainnya malah ikut turun cukup dalam, yang berpengaruh ke penurunan IHSG.

Kok bisa?

Mekanisme 1: Bobot Indeks dan Market Cap

IHSG itu indeks berbobot. Artinya, saham dengan kapitalisasi pasar paling besar punya pengaruh paling besar ke naik-turunnya angka IHSG. Saham kecil bergerak liar pun dampaknya tipis ke indeks.

Contoh sederhana. Waktu pasar masih waras, BBCA pernah menyentuh kapitalisasi (market cap) sekitar 1.000 triliun, sementara total kapitalisasi IHSG di kisaran ~10.000 triliun. Berarti BBCA memegang sekitar 10% dari bobot pasar. Kalau BBCA turun 10% di harganya, efeknya akan menyeret IHSG turun sekitar 1%. Itu baru satu saham, tinggal akumulasikan dengan saham-saham big cap lainnya.

Nah, beberapa tahun terakhir muncul pemain baru di papan atas (big cap). DSSA sempat punya kapitalisasi ~800 triliun. BREN bahkan sempat jadi yang terbesar di atas BBCA dengan >1.000 triliun. Deretan saham konglo lain juga ikut naik dengan bobot yang besar (ratusan triliun).

Ketika kelompok ini naik dengan porsi sebesar itu, dampaknya ke IHSG juga besar. Inilah ilusi yang lahir. Indeks bisa hijau bukan karena mayoritas perusahaan membaik, tapi karena segelintir saham "super-berat" yang sedang diangkat. Indeks (IHSG) bisa hijau, tapi isinya belum tentu sehat.

Ilusi IHSG
Ilusi IHSG

Itu pula alasan kenapa saya pernah bikin video "prediksi" saat IHSG di 9.000 dengan judul "Hati-hati, ini tanda bahaya". IHSG sebenarnya belum layak di angka 9.000 saat itu, karena yang bervaluasi wajar malah stuck. Sampai akhirnya bubble pun pecah yang di-trigger oleh MSCI di awal tahun.

Mekanisme 2: Free Float Tipis (HSC)

Yang bikin saham konglo bisa terbang dalam hitungan hari adalah free float yang tipis, atau istilahnya High Shareholding Concentration (HSC).

Bayangkan sebuah emiten punya 1 miliar lembar saham beredar, tersebar di 10.000 pemegang. Kelihatannya ramai. Tapi kalau 900 juta lembar di antaranya (90%) sebenarnya dikuasai cuma oleh 100 pemegang (1% pemegang saham), maka harga saham itu praktis ditentukan oleh segelintir tangan saja, dampaknya yang benar-benar berputar di pasar hanya sedikit.

Saham dengan kondisi seperti ini sangat mudah "digerakkan". Demand kecil saja sudah bisa mengangkat harga jauh, karena suplai yang tersedia di pasar memang seret. Itu sebabnya saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi bisa naik cepat, dan turun sama cepatnya. Likuiditasnya tipis di dua arah.

Inilah munculnya istilah "saham goib" atau "saham manipulasi", karena pemegangnya "lu lagi lu lagi".

Teori yang Beredar di Pasar

Dari mekanisme di atas, muncul beberapa asumsi yang beredar di pasar, tentu asumsi pasti akan ada dua sisi.

Saham konglo itu sudah dipastikan keluar dari MSCI per Juni. Sebelum keluar, harga diangkat tinggi di hari terakhir. Lonjakan harga tentunya akan menarik perhatian ritel (terutama pemula), karena FOMO mereka pun ikut masuk. Hukum supply-demand bekerja, ketika demand besar untuk beli maka harga akan naik. Dan ketika harga sudah naik tinggi, pemilik besar tinggal exit. Toh sahamnya memang sudah mau dicoret dari indeks. Siapa yang rugi? Sudah tentu kita-kita lagi para ritel.

Tentu ini dengan disclaimer awal ya. Inti asumsinya satu: polanya layak dicurigai.

Karena asumsi & teori itu biasa 2 arah, selain ada yang curiga tentu ada juga yang merasa kalau mereka "pahlawan bursa". Kenapa? Karena sahamnya dianggap menopang IHSG saat indeks rapuh dan naik ke 9.000 lalu.

Tapi menopang angka indeks dengan saham berbobot besar tidak sama dengan menyehatkan pasar. Indeks bisa terlihat tertolong di permukaan, sementara di bawah kualitasnya tidak berubah. Toh terbukti ketika IHSG crash, "pahlawan" tersebutlah yang justru membawa IHSG drop.

IHSG Selalu Pulih, Apa Bedanya Saat Ini?

Sebelumnya, kita pernah membahas IHSG dari kacamata sejarah terkait dirinya yang selalu pulih disini.

Intinya: dalam 30 tahun sudah berkali-kali IHSG crash dan selalu bangkit. Secara overall, IHSG akan selalu pulih.

Sebelum 2023, koreksi IHSG umumnya wajar, mengikuti siklus ekonomi. Sejak 2024, muncul fenomena distorsi berskala besar dari segelintir saham "super-berat" tadi. Saya menyebutnya "saham halusinasi". Angka IHSG jadi semu, karena yang menggerakkan bukan kinerja mayoritas emiten, tapi euforia di sekelompok kecil saham dengan free float tipis.

Bukti paling jelas justru terlihat di Jumat kemarin. Banyak saham konglo itu naik tajam, tapi IHSG tidak lari ke mana-mana. Artinya, peran mereka sudah mengerdil. Mereka tidak lagi sanggup menyetir indeks seperti di 2024 dan 2025, karena kapitalisasinya sudah jauh menyusut, tentu saja rata-rata minus 50%.

Kembali ke Prinsip: Beli Saham itu Beli Bisnis

Di tengah semua keriuhan ini, tetap perlu kembali ke prinsip yang rasanya sudah bosan berkali-kali saya sampaikan di newsletter, Ebook ProfitWise, juga Watchlist Gh, kalau beli saham = beli bisnis, terdapat bisnis di balik lembaran saham yang kita beli.

Kita bandingkan saja singkat angkanya, EPS dan laba BMRI bisa 30x lipat lebih besar dibanding (kita ambil contoh) DSSA. Tetapi market cap (pasar menilai) mereka sempat DSSA 2x BMRI, yaitu 800 triliun.

Bagaimana maksudnya? Kita gunakan analogi. Ada teman A punya bisnis yang memberikan kita kupon keuntungan sebesar 200rb/bulan (DSSA), dan ada teman B punya bisnis yang juga memberikan kupon keuntungan sebesar 6 juta/bulan (BMRI). Dengan akal sehat saja sudah pasti kita akan memilih teman B yang memberikan kupon keuntungan (EPS) lebih besar.

Inilah alasan kenapa saya selalu fokus ke individu (bottom up) seperti beberapa contoh studi kasus saham yang sering diberikan. Abaikan dulu angka IHSG, fokus ke kinerja individu saham. Bahkan saya sering dibilang aneh oleh teman saya karena saya bukan termasuk orang yang mantengin harga IHSG setiap saat, "gimana aktif di saham tapi ga hafal angka IHSG?" 馃槀. Padahal ya saya investor, jadi fokusnya ke bisnis baik yang bisa saya investasi saja, bukan fokus selalu ke pasar. Tidak salah, namun bahaya menjadi noise dan menciptakan confirmation bias.

Penutup: Apa yang Sebenarnya Perlu Dilihat

Ramalan harga jangka pendek itu sulit, dan bukan itu yang penting.

Lonjakan di hari terakhir bursa bukanlah sinyal beli. Itu adalah pengingat bahwa di pasar dengan free float tipis, harga bisa diatur jauh lebih gampang daripada yang kita kira. Dan narasi bahwa "dengan setor dana saja harga saham melonjak tinggi" sebenarnya cuma bukti dari mekanisme HSC yang kita bahas di atas.

Jangan sampai kita menjadi the last greater fool yang beli di atas karena takut ketinggalan (FOMO). Pahami dulu, baru putuskan. Sesuaikan dengan profil risiko investor masing-masing.

Mekanisme HSC & distorsi indeks ini sebenarnya menjadi salah satu fondasi kenapa Gh Portfolio bisa konsisten "Beat The Market". Karena jika kita memberikan waktu untuk bekerja di saham yang baik, niscaya pasar "mau tidak mau" akan menghargai sesuatu sesuai dengan Nilainya. Toh bisnis yang bisa menghasilkan omset 1 Miliar/tahun tidak mungkin akan bernilai sama ketika bisa menghasilkan 5 Miliar/tahun bukan? 馃榿

Kalau investor mau pelajari konsep dasar & teknis dari pemahaman investasi saham, proses stock picking, sampai post pembelian (manajemen alokasi, kapan waktu jual, dll), itu semua dijelaskan di Ebook ProfitWise ya.

馃憠 Ebook ProfitWise: Metode Screening Saham Multibagger

Kinerja Gh Portfolio
Kinerja Gh Portfolio

馃憠 Invest ke 30 Saham Fundamental Kuat lewat Watchlist Gh

Stay Iqra.

Salam, Gh Portfolio

馃摡 Suka tulisan seperti ini?

Di website GH, investor bisa coba gratis: dapat free chapter Ebook ProfitWise + insight investasi mingguan lewat newsletter.

馃憠 Kunjungi ghanifaza.com