⏳

Biaya dari Menunda: 5 Tahun Menunda YouTube, 10 Tahun Menunda Website, dan Simulasi Investasi

Ringkasan

Dua cerita pribadi soal mahalnya menunda (YouTube dan website) plus simulasi investasi Agus vs Budi yang menunjukkan kenapa waktu mulai jauh lebih menentukan daripada besar setoran.

Tanggal
October 12, 2026

Edisi 12 Oktober 2026 · 7 menit baca

Halo investor,

Kembali lagi di Catatan Investor Gh.

Kali ini saya mau cerita pengalaman personal tentang seberapa besar "biaya" dari menunda sesuatu yang sebenarnya bisa langsung dilakukan saat itu juga.

Biaya ini tidak pernah tercatat di mana pun, karena termasuk intangible cost. Tapi kalau mau dihitung.. angkanya mencengangkan.

Tulisan ini akan cukup panjang karena ada 2 cerita pribadi dan 1 simulasi investasi.

5 Tahun Menunda Bikin YouTube

Saya sudah rajin menonton YouTube kurang lebih sejak era awal di tahun 2010. Dan dalam waktu yang lama saya hanyalah penikmat saja, karena saat itu pun memang masih bocah.

Sampai di tahun 2014-2015, karena salah satu hobi saya adalah menonton "Teori One Piece", saya sudah kepikiran untuk punya channel sendiri, seperti salah satu panutan saya dari channel luar.

Namun kurang lebih 5 tahun sejak saat itu, saya tidak pernah memulai sama sekali.

Alasannya? Klise. Saya yang selalu melabeli diri sebagai "introvert mentok" ini sudah pasti malu & tidak berani. Malu hasilnya jelek, malu diejek orang lain, teman, dan sebagainya.

Simpelnya, overthinking mengalahkan aksi saya.

Sampai akhirnya saya nekat di tahun 2020, sebelum pandemi, untuk bikin satu video: scripting, voice over, editing (video & thumbnail), lalu posting.

Ternyata satu video tidak butuh lebih dari 3 jam dari nol sampai posting.

Kenapa voice over, bukan rekaman monolog? Tentu alasannya "mode introvert" tadi 😅

Penundaan 5 tahun yang padahal untuk jadi satu video HANYA BUTUH 3 jam saja, dan akhirnya hal tersebut menjadi game-changer dalam hidup saya, terutama secara ekonomi.

Pencapaian YouTube
Pencapaian YouTube

Dalam kurang lebih 3,5 tahun, saya mencapai Rp1 Miliar pertama di usia 27 tahun.

Dan revenue dari YouTube itu sebenarnya hampir pure profit. Ini belum termasuk income lain seperti affiliate, endorsement, dan sebagainya.

YouTube yang bikin saya berani pivot dari Sarjana Teknik lulusan ITB menjadi seorang "YouTuber".

YouTube jugalah yang menjadi leverage tertinggi saya sebagai modal untuk berinvestasi, yang akan dibahas setelah ini.

Kalau dihitung, "biaya dari menunda" saya di sini kira-kira begini:

  • Rp1 Miliar dalam 3,5 tahun = ±Rp285 juta per tahun
  • Dihitung linear selama 5 tahun menunda = ±Rp1,4 Miliar

Tentu tidak ada yang benar-benar linear. Anggap saja margin of error-nya besar di 50%, saya tetap kehilangan ±Rp700 juta, atau Rp140 juta per tahun!

Itulah salah satu "biaya dari menunda".

10 Tahun Menunda Punya Website Sendiri

Case kedua lebih lama lagi. 10 tahun saya MENUNDA punya website sendiri.

Alasannya? Tidak paham coding, pusing mikir desain harus begini dan begitu, belum lagi urusan server, hosting, dan sebagainya.

Masih nyambung dengan cerita di atas, di 2015 karena suka "Teori One Piece", saya juga ingin punya website sendiri untuk menuangkan unek-unek saya soal ceritanya.

10 tahun kemudian, di 2025, website pertama saya akhirnya jadi. Topiknya memang sudah berbeda, bukan One Piece melainkan Saham & Investasi seperti yang investor baca sekarang.

Dan membuatnya, termasuk mengurus hosting, tidak sampai satu hari.

Dan.. website itulah yang membantu saya menghasilkan revenue Rp1 Miliar dalam 1 tahun.

Tentu berbeda dengan YouTube, ini masih revenue. Ada cost lain, jadi net profit-nya jauh di bawah itu.

Menariknya, website tersebut hanya website simpel biasa, mayoritas berbentuk landing page dengan tema polos putih dan teks biasa, seperti tulisan ini.

Padahal dulu saya pikir bikin website harus ribet, warna-warni, estetik, dan sebagainya. Faktanya, selama tujuan websitenya tercapai, tampilan simpel pun cukup.

Ya benar, salah satu produk yang saya tawarkan di sana adalah materi investasi Gh Portfolio yang mungkin juga investor miliki.

Semoga value yang saya berikan jauh lebih besar dibanding harga yang perlu dibayar ya. Istilahnya undervalued, seperti kata salah satu investor pembaca Ebook ProfitWise ini 😁

Testimoni ProfitWise undervalued
Testimoni ProfitWise undervalued

Memang benar, di 2015 membuat website tidak semudah sekarang. Tapi overthinking saya soal estetik, fungsi, dan hosting itulah yang akhirnya membuat semuanya tertunda.

Apalagi sekarang di era AI, membuat website JAUHHH lebih mudah dan cepat. Salah satunya artikel Catatan Investor Gh yang saya buat dengan AI.

Simpel, tinggal prompting, bahkan pasang hosting pun dibantu AI (kecuali biayanya ya), dan BOOM, tidak sampai setengah jam sudah launching publik.

Lalu bagaimana dengan investasi?

Biaya Menunda di Investasi "Lebih Mudah" Terlihat

Menunda ini paling sering terjadi justru dalam investasi.

Takut rugi, takut salah pilih, takut belum cukup paham, atau overthinking soal metode A-B-C, trik jitu D-E-F, dan seterusnya. Sampai akhirnya bertahun-tahun tidak pernah mencoba dan belajar langsung dari pengalaman.

Simpelnya, kita terlalu pusing memikirkan kombinasi secara kompleks tanpa paham bagaimana kondisi di "medan perang" nya.

Kita pakai contoh 2 orang: Agus & Budi. Sebagai catatan, simulasi ini memakai asumsi return yang sama setiap tahun supaya mudah dihitung.

Agus baru mulai investasi di usia 40 tahun, dengan setoran Rp12 juta/tahun atau Rp1 juta/bulan. Supaya konservatif, return-nya kita pakai 7% per tahun, setara Obligasi/SBN.

Simulasi investasi Agus
Simulasi investasi Agus

Di usia 50 tahun, modal yang sudah disetor Agus = Rp12 juta × 10 tahun = Rp120 juta. Tabungan investasinya menjadi Rp177 juta, atau return +47.84%.

Budi sudah mulai investasi sejak usia 25 tahun, dengan setoran yang sama Rp12 juta/tahun dan return yang sama 7%.

Bedanya, Budi hanya menyetor selama 5 tahun saja, dari usia 25 sampai 29, lalu berhenti.

Simulasi investasi Budi
Simulasi investasi Budi

Di usia 50 tahun, modal yang disetor Budi HANYA Rp60 juta, setengahnya Agus. Tapi tabungannya menjadi Rp285 juta, atau return +376.23%.

Bedanya cuma satu: waktu mulai. Bahkan Budi hanya setor di 5 tahun pertama saja.

Simulasi Budi menabung rutin sampai usia 50
Simulasi Budi menabung rutin sampai usia 50

Kalau Budi tetap rutin menabung Rp12 juta/tahun dari usia 25 sampai 50, tabungannya sudah mencapai Rp812 juta.

Dan itu baru dengan asumsi 7% per tahun. Bagaimana kalau kita paham memilih saham yang baik dan anggap saja return-nya 15% per tahun (CAGR)? Hasilnya berbeda drastis.

Simulasi return 15% per tahun
Simulasi return 15% per tahun

Dengan setoran yang sama Rp12 juta/tahun dari usia 25 sampai 50, tabungan Budi di usia 50 menjadi ±Rp2,9 Miliar.

Sebagai pembanding, Agus yang baru mulai di usia 40, dengan return 15% pun, hanya mencapai ±Rp280 juta.

Itu semua "hanya" dengan menabung konsisten Rp1 juta/bulan. Padahal semakin bertambah usia, jabatan naik, gaji dan income bertumbuh, menabung Rp1 juta/bulan rasanya sudah tidak relevan lagi 😁

Kinerja Gh Portfolio
Kinerja Gh Portfolio

Sama halnya dengan Gh Portfolio. Ambil contoh tahun 2025 saja: Misal modal awal Rp2 Miliar dengan return +48.83%. Artinya return di tahun itu saja sudah hampir Rp1 Miliar, dan ini belum dipotong pajak.

Bandingkan dengan "pekerjaan website" di atas yang menghasilkan Rp1 Miliar yang sama, tapi belum dipotong operasional, belum lagi effort pekerjaannya.

Itulah "harga dari ilmu" yang sudah compounding karena pemahaman bertahun-tahun.

"Biaya dari menunda" adalah cost negatif, tapi "harga dari ilmu" adalah reward positif yang akan terus bertumbuh.

Maka sebenarnya prinsip ke #3 terkait waktu teman terbaik ini relevan untuk segala aspek kehidupan.

Dan saya sendiri cukup bersyukur sudah diperkenalkan dengan pasar modal sejak 2016, saat berusia 20 tahun. Cerita awalnya pernah saya ceritakan di beberapa video podcast, yaitu ketika mendapat beasiswa dari kampus.

Ternyata Tidak Semengerikan Itu

Rasa takut adalah hal yang wajar. Tapi takut rugi lalu tidak memulai sama sekali, itu sendiri sudah sebuah kerugian.

Dan "biaya dari menunda" di investasi bentuknya macam-macam.

  • Menunda mulai. Misal mulai investasi sejak dini dengan modal Rp10 juta, lalu rugi -40%. Kerugiannya cuma Rp4 juta, dan itu jadi "biaya belajar" yang murah. Kalau menunda sampai merasa "sudah cukup umur & paham", lalu masuk dengan modal Rp1 Miliar, rugi -40% itu artinya Rp400 juta!
  • Menunda cut loss. Misal sudah -40% di saham gorengan, tapi karena emosi dan merasa sayang kalau dijual, akhirnya malah average down, dan harga sahamnya turun lagi sampai -60%.

Kalau di -40% kita cut loss lalu pindah ke saham lain yang ternyata naik +20%, total kerugian kita tinggal -28%. Kalau saham penggantinya naik +50%, tinggal -10%. Jauh dari -60%.

Penyebabnya? Hanya karena "menunda".

Kalau diperhatikan, dari semua cerita di atas selalu ada satu pola.

Banyak hal terasa "sulit" karena kita terlalu overthinking. Begitu dikerjakan, ternyata tidak semengerikan itu.

Mengerjakannya cuma butuh 3 jam atau 1 hari. Menundanya bisa memakan 5 tahun dan 10 tahun.

Dari situ kelihatan jelas: biaya menunda seringkali jauh lebih besar dari biaya yang akhirnya kita keluarkan.

Gagal setidaknya memberi pelajaran. Rugi di saham gorengan? Oke, belajar memilih saham yang baik. Rugi karena alokasi kacau? Oke, belajar alokasi aset.

Tapi penyesalan karena menunda selalu menyisakan pengandaian: "gimana ya kalau dulu saya mulai lebih awal?"

Pada akhirnya, ada satu hal yang saya pelajari dari waktu yang terbuang tersebut:

Ada sesuatu yang lebih menyakitkan dari kegagalan, yaitu penyesalan.

P.S. Dan salah satu penyesalan lain saya terkait menunda adalah masuk ke saham US yang memiliki tingkat return/tahun atau CAGR bisa belasan persen kalau mengambil top ETF seperti S&P500 atau NASDAQ.

Seperti sekarang, disaat IHSG anjlok, saham US malah sedang rally. Jadi kalau investor mau diversifikasi juga ke saham US, sejak awal masuk di 2021 saya sudah menggunakan aplikasi GoTrade.

Tampilannya simpel dan mudah dipahami, ada kategori juga misal ingin memilih kategori tertentu misal AI, atau Syariah, atau ETF bisa langsung.

Bisa daftar GoTrade dengan kode Referral berikut ya: Daftar GoTrade Gh.

Stay Iqra.

Salam, Gh Portfolio

📩 Mau Dapat Catatan Investor Rutin di Email?

Kalau investor mau dapat tulisan seperti ini secara rutin, bisa join newsletter langsung di website GH ya.

👉 Kunjungi ghanifaza.com