馃

Diversifikasi: Cara Tetap Tenang Saat Market Crash

Ringkasan

Kunci tetap tenang saat IHSG -28%: diversifikasi. Cara Faza bagi portfolio (5-7 emiten BEI dalam 3 kategori, crypto, low risk, saham US, dividen) dan kenapa tujuannya ketenangan, bukan max return.

Tanggal
May 27, 2026

Edisi 27 Mei 2026 路 5 menit baca

"Bang, gimana sih cara tetap tenang saat market kondisi seperti ini?"

Halo investor,

Dalam beberapa hari terakhir, pertanyaan itu cukup sering masuk ke DM & WA saya. IHSG sudah turun sekitar -28% dari ATH 9.000 di awal tahun, dan tentu hal ini bisa "kena mental" untuk beberapa orang.

Bagi saya jawaban simpel agar tetap tenang adalah: diversifikasi.

Saya cukup bingung dengan banyaknya narasi di luar sana yang bilang "diversifikasi itu bodoh, kita harus ALL IN". Akibatnya, banyak investor all-in di satu instrumen, misal full di crypto saja, atau full di saham BEI saja, dan di saham BEI pun full di saham konglo 100% modal.

Padahal investor pengalaman, bahkan Warren Buffett sendiri, tidak pernah menyarankan menyimpan semua telur di satu keranjang. Toh beliau juga asetnya terbagi-bagi kan, bahkan Kas Berkshire pun lebih dari setengah market cap IHSG 馃槀.

Konsep sederhana, tapi sering dilupakan saat market sedang euforia, ya itulah keserakahan.

Bagaimana saya membaginya?

Di saham Indonesia (BEI), saya biasa pegang 5 sampai 7 emiten di portfolio. Maksimal 10 kalau pasar sedang menawarkan banyak peluang seperti crash sekarang. Dari total emiten tersebut pun dibagi lagi jadi 3 kategori (yang dibahas detail di Ebook ProfitWise dan Watchlist Gh). Tujuannya supaya kalau satu kategori lagi turun, yang lainnya bisa nge-offset.

Tapi itu baru saham BEI. Secara overall portfolio, saya juga invest ke beberapa instrumen lain:

  • Crypto. Saya invest sejak masa pandemi. Karena tidak terlalu paham fundamental crypto, saya pakai pendekatan teknikal untuk timing entry dan exit.
  • Low Risk Investment. Bisa berbagai macam instrumen yang disesuaikan dengan kecocokan masing-masing. Misal reksadana pasar uang, emas, obligasi, atau deposito. Tujuannya bukan untuk gain tinggi, tapi untuk menjaga nilai kekayaan. Modal disini juga bisa menjadi "dry powder" yang siap dipakai saat ada peluang masuk ke instrumen high gain lain (seperti saham).
  • Saham US. Karena sesama saham maka porsi disini pun cukup tinggi alokasinya. Saya sudah invest di saham US sejak pandemi juga, saat itu USD masih di bawah 15 ribu 馃槀. Sekarang USD nyentuh 17.800. Plus, saham US dari S&P 500 (VOO) saja saat ini sedang di ATH (grafik di bawah), sementara IHSG malah crash -28%. Ini contoh nyata bagaimana diversifikasi bisa mengurangi risiko.
VOO ATH vs IHSG crash
VOO ATH vs IHSG crash
  • Saham Dividen (porsi dari saham BEI). Dari total BEI sendiri, saham dividen di porto saya minimal 20%. Fungsinya serupa seperti saham US di atas, yaitu "menetralkan" minus IHSG. Saat capital gain minus karena harga turun (dampak pasar panik), yield dividen yang tinggi tetap bisa membantu & menambah cashflow.

Ini level yang seharusnya dipahami DULU sebelum masuk ke investasi, yaitu Money Management. Tujuannya bukan untuk maximize return. Tujuannya adalah ketenangan.

Kalau kita paham tujuan dari setiap rupiah yang kita simpan (mana untuk emergency, mana untuk pertumbuhan jangka panjang, mana untuk modal mainan kecil-kecilan), maka dalam kondisi market seperti apapun, kita akan jauh lebih tenang. Terutama dalam kondisi pasar crash seperti ini, tidak akan bertindak berdasarkan emosi seperti panic selling.

Mungkin ada pertanyaan di benak investor: "Kenapa tidak ada properti?" Jawaban jujur saya: karena saya mulai investasi dari modal kecil, dan semua instrumen di atas memungkinkan DCA dengan cicilan kecil. Sedangkan properti butuh modal besar langsung, dan bahkan setelah dibeli pun belum likuid. Mungkin ini PR saya untuk dipelajari di masa mendatang 馃榿.

Tapi prinsipnya sama: kalau investor sudah punya modal lebih besar, dan SUDAH PAHAM dengan properti, maka ini bisa jadi diversifikasi ke-5 atau ke-6 untuk balance portfolio. Bagi yang base-nya di properti malah mungkin bisa jadi diverse utama.

Sebenarnya terkait cara saya membagi 3 kategori saham di BEI dengan framework yang lebih detail, juga contoh alokasi seperti di tulisan ini, saya bahas tuntas di Ebook ProfitWise. Lalu implementasi berbagai kategori pun bisa dilihat di Watchlist Gh.

Sedangkan untuk diversifikasi ke saham US, saya pribadi pakai GoTrade sejak awal. Terutama adanya kategori-kategori misal mau cari saham Tech, Komoditi, bahkan Syariah pun ada. Kalau investor mau cek, bisa ke masing-masing link ini ya:

  1. Ebook ProfitWise
  2. Watchlist Gh
  3. GoTrade (untuk saham US)

P.S. Ini cara saya, bukan blueprint yang harus diikuti persis. Tiap investor punya konteks profil risiko, horizon, dan tujuan finansial yang beda. Yang konsisten adalah prinsipnya: diversifikasi.

Stay Iqra.

Salam, Gh Portfolio

馃摡 Mau newsletter seperti ini rutin di email?

Kalau investor mau dapat tulisan seperti ini secara rutin, bisa join newsletter langsung di website GH ya.

馃憠 Kunjungi ghanifaza.com