馃槾

Investasi yang Baik Itu Membosankan (dan Kenapa Itu Bagus)

Ringkasan

Kalau investasimu terasa membosankan, itu justru pertanda benar. Soal 'The Art of Money', definisi 'loss' yang sebenarnya, dan kenapa paham value bikin tenang saat market crash.

Tanggal
May 1, 2026

Edisi 1 Mei 2026 路 5 menit baca

Halo investor,

Mungkin ada yang sering merasa "kok investasi membosankan ya? Kita ga ngapa-ngapain dalam jangka lama, dan bahkan bertindak hanya sewaktu-waktu saja." Bahkan cenderung banyak yang merasa seperti ini. Apakah investor juga sama? 馃榿

Tentu saja saya juga merasa hal tersebut. Dibanding trading dimana kita bisa lihat chart tiap saat, memprediksi pola-pola indah itu, dan senang ketika pola benar terwujud. (Lagi-lagi) saya juga pernah berada di fase itu.

Mungkin sedikit kutipan dari mentor saya, Prof. Joeliardi, ini bisa cukup mencerahkan:

Kutipan Prof. Joeliardi
Kutipan Prof. Joeliardi

"Jika kita mencari hal yang seru dan menyenangkan, atau membuat kita excited, biasanya sih kita harus membayar untuk memperolehnya." Ini seharusnya sudah cukup menjawab terkait poin investasi membosankan. "Stock investing is serious stuff & supposed to be boring, kalau Anda mencari excitement, pastikan bahwa Anda siap untuk mengeluarkan uang & bukan menghasilkan uang." Bold statement, tapi saya sangat setuju.

Kenapa investasi "harus membosankan"? Saya berikan lagi satu kutipan dari Raditya Dika di salah satu podcastnya: "Investasi itu memang seharusnya membosankan. Saking bosannya bahkan kita bisa tinggal tidur karena hal tersebut."

Yes, bukankah itu yang sering jadi concern utama di produk Gh Portfolio ini? Kita investasi bukan untuk cepat-cepatan kaya, tapi untuk mencari ketenangan, dan tentu ketenangan sesuai tujuan keuangan masing-masing. Tujuan keuangan saya mungkin berbeda dengan tujuan keuangan investor. Ada yang untuk dana anak, dana pensiun, sebagai safety, atau sekedar biar uang tidak nganggur di tabungan. Tidak ada benar atau salah dalam masalah keuangan, itulah kenapa uang lebih cocok disebut sebagai "seni", The Art of Money.

Jadi bagi investor yang merasa kalau investasi itu membosankan, selamat! Itu artinya sudah berada di jalur yang benar.

Kita berinvestasi, memfilter saham-saham berdasarkan value, tentu kita ingin saham tersebut "terbang" alias memberikan profit. Tapi kalau sudah paham value-nya, ketika keadaan crash saat ini, atau ketika adanya sentimen-sentimen, tidak akan membuat adrenalin saya terpacu. Kenapa? Ya karena saya paham dengan nilai sesungguhnya dari saham (perusahaan) tersebut.

Mungkin kalau investor perhatikan di sosial media atau komunitas-komunitas lain, kondisi saat ini cukup chaos karena keadaan pasar crash sehingga dampaknya adalah banyak orang (ritel) akhirnya reaktif untuk beraksi dan bukan proaktif. Tentu mayoritas dari mereka adalah para "pemain saham" yang tidak paham alasan mereka entry. Saya tidak bisa bilang pemula karena banyak yang sudah bertahun-tahun pun masih terjebak di siklus ini.

Kenapa saya cenderung pasif? Apakah tidak menderita loss saat market crash seperti sekarang? Sebelum dijawab, saya ajak investor pikirkan dulu: definisi "loss" itu sebenarnya apa?

Average BMRI masih profit
Average BMRI masih profit

Contoh, saya punya average BMRI di harga 3.550, kalau saat ini harganya 4.430, bukankah saya terhitung masih profit?

ADMR masih bagger
ADMR masih bagger

Contoh lain, ADMR. Average saya di 843, harga saat ini 1.840, dan ini masih bagger meski sentimen market lagi negatif. Kondisi crash yang dilihat orang lain sebagai loss, di portfolio saya masih jauh di atas modal.

Maka definisi loss disini mungkin bisa berbeda-beda:

  • Kalau definisinya adalah: yang awalnya saya punya potensi profit 150% dan sekarang menjadi 118% berarti ada -32%, mungkin ada yang menganggap itu sebagai loss karena definisi orang bisa berbeda.
  • Atau memang masuk ke saham belum lama dan kemarin beli di harga tinggi, sehingga sekarang mengalami loss, ini juga bisa masuk definisi loss, mungkin ini paling umum.

Tapi poinnya adalah, kerugian belum benar-benar menjadi kerugian kecuali kita merealisasikan kerugian tersebut.

Contoh, profit saya awalnya 150%, lalu sekarang 118%, dan karena saya panik melihat market, akhirnya saya jual lah saham tsb. Padahal sebenarnya kalau dari sisi value, saham tersebut masih potensial dan bisa kembali ke 150% (bahkan lebih), maka disini saya benar-benar merealisasikan "kerugian" tersebut. Apalagi kalau kondisi benar-benar -10% -15% tapi akhirnya jual karena panik, itu benar-benar menjadi loss. Paham ya?

Inilah pentingnya untuk paham value agar menghindari kita bersifat reaktif terhadap pasar dan bertindak berdasarkan emosi. Yah tentu saja semua pemahaman ini bagi pembaca Ebook ProfitWise akan cukup relate karena Metode FCDS-T memang fokus di value-based screening yang bikin investor tahan terhadap market noise karena paham value dari saham yang dianalisis. Kalau investor merasa butuh fondasi agar investasi di saham tidak sakit mental, bisa pakai link di atas ya.

Intinya, kalau investor mulai merasa investasi membosankan dan tidak ada dorongan untuk lihat aplikasi broker setiap saat, itu BAGUS. Itu artinya pemahaman value sudah mulai bekerja dan emosi lebih baik untuk mencari ketenangan.

Namun tetap ada 1 hal yang perlu dijaga: jangan sampai boring jadi bikin kita lupa. Tetap evaluasi portfolio per kuartal, tetap update knowledge. Bosan boleh, asal tetap disiplin, bukan bosan jadi lalai.

Stay Iqra.

Salam, Gh Portfolio

馃摡 Mau newsletter seperti ini rutin di email?

Kalau investor mau dapat tulisan seperti ini secara rutin, bisa join newsletter langsung di website GH ya.

馃憠 Kunjungi ghanifaza.com