Kenapa Berkshire Hathaway numpuk kas sampai rekor $397 miliar (Rp7.000 triliun)? Enam pelajaran soal kas sebagai strategi, dry powder, kesabaran 14 kuartal, konsistensi metode di atas orangnya, dan kenapa posisi kas orang lain bukan sinyal buat kita.
Edisi 21 September 2026 ยท 10 menit baca
Halo investor,
Tulisan ini akan cukup panjang karena akan membahas beberapa pelajaran soal kenapa Buffett cukup sering menyimpan kas dalam jumlah besar. Jika dirasa tidak akan selesai langsung, boleh ceklis bintang/favorite agar tidak lupa terbaca ๐.
Beberapa tahun terakhir terdapat satu hal menarik yang sering dibahas dalam dunia investasi, terutama perusahaan Warren Buffett yaitu Berkshire Hathaway yang menumpuk uang tunai dalam jumlah yang sulit dibayangkan.
Puncaknya di kuartal pertama 2026 lalu, posisi kas mereka menyentuh rekor sepanjang sejarah di sekitar $397 miliar. Kalau dirupiahkan, itu sekitar Rp7.000 triliun!
Sebagai pembanding, kapitalisasi pasar IHSG ada di kisaran Rp10.000 sampai Rp11.000 triliun. Artinya lebih dari setengah bursa kita bisa dibeli HANYA dengan kas perusahaan Buffett. Dan ingat, itu CUMA kasnya saja ya, belum valuasi Berkshire-nya.
Dan seperti biasa, jika ada hal seperti ini akan muncul narasi yang gampang dijual ke publik: "Buffett numpuk kas, berarti dia tau CRASH BESAR akan datang."
Tapi, apakah benar begitu?
Runut Dulu Kejadiannya
Di kuartal ketiga 2025, kas Berkshire sudah di angka rekor sekitar $381 miliar. Lalu di akhir 2025 terjadi peristiwa besar. Warren Buffett turun dari kursi CEO dan digantikan Greg Abel mulai 2026.
Buffett sendiri tetap menjabat Chairman, tetap memegang sekitar 30% saham, dan tetap datang ke kantor. Walau untuk ini baru banget akhir minggu lalu, dimana Buffett pun turun dari Chairman dan digantikan oleh anaknya, Howard Buffett.
Masuk kuartal pertama 2026, kasnya naik lagi ke rekor baru di sekitar $397,4 miliar. Belanjanya sangat sedikit, cuma sekitar $234 juta untuk buyback sahamnya sendiri. Gila ya, $234 juta itu masuk kategori sedikit.
Tapi ada yang menarik, itu adalah buyback PERTAMA mereka sejak Mei 2024. Setelah hampir dua tahun sama sekali tidak membeli kembali sahamnya sendiri, mereka mulai bergerak lagi walaupun kecil.
Lalu di kuartal kedua 2026, kas mereka TURUN, dari $397 miliar ke sekitar $365 miliar. Ke mana perginya?
- Pertama, buyback melonjak jadi sekitar $4,5 miliar, naik hampir 19 kali lipat dari kuartal sebelumnya.
- Kedua, dan ini yang lebih penting, mereka melakukan pembelian bersih saham hampir $20 miliar. Padahal sebelumnya, selama 14 KUARTAL berturut-turut mereka selalu menjual.
Empat belas kuartal itu 3,5 tahun. Bayangkan, tiga setengah tahun berturut-turut jadi penjual bersih tanpa membeli saham apapun.
Dan alasan yang disampaikan Abel soal buyback sederhana: mereka melakukannya karena nilai intrinsik (fair value) sahamnya dinilai sudah lebih tinggi dari harga pasarnya. Istilah yang kita kenal, undervalued.
Pelajaran 1: Kas Itu Sebuah POSISI, Bukan Tanda Kegagalan
Ini pelajaran pertama dan menurut saya paling penting buat kita sebagai investor ritel.
Di kepala banyak orang, uang yang belum diinvestasikan itu terasa seperti kegagalan. Rasanya seperti ketinggalan. Ada tekanan psikologis buat cepat masuk, apalagi kalau lihat orang lain pamer cuan di sosmed. Akhirnya kita selalu merasa kalau uang nganggur itu adalah "dosa" ๐. Ada yang relate?
Namun coba lihat apa yang dilakukan perusahaan investasi paling dihormati di dunia. Mereka diam di atas ratusan miliar dolar uang tunai selama bertahun-tahun, dan mereka tetap santai.
Kenapa? Karena bagi mereka, memegang kas itu bukan berarti tidak punya ide. Itu adalah STRATEGI. Keputusan bahwa harga yang tersedia saat ini belum cukup menarik untuk risikonya.
Ini sesuai dengan yang pernah saya bilang soal DO NOTHING. Seringkali do nothing itu lebih baik daripada selalu do something. Ketika kita memaksakan untuk transaksi padahal hanya terbawa emosi? Alih-alih netral 0, kita bisa jadi malah rugi (minus).
Dan saya sendiri dapat pelajaran penting itu dari Buffett: lebih baik simpan banyak kas, lalu ketika momentumnya datang, BOOM, invest besar saat itu.
Jadi kalau investor sekarang lagi pegang kas dan belum masuk pasar karena merasa harganya belum masuk akal, atau bahkan belum merasa aman dari kondisi pasar? Tenang saja, itu namanya sedang menunggu, dan menunggu itu bagian dari strategi.
Pelajaran 2: Dry Powder Itu Kemampuan Bergerak Saat Orang Lain Lumpuh
Kenapa menunggu itu ada gunanya? Karena kesabaran itu "baru akan terlihat hasilnya" dalam suatu momentum tertentu.
Waktu mereka akhirnya melihat harga yang masuk akal, mereka bisa langsung menggelontorkan hampir $20 miliar untuk beli saham, plus $4,5 miliar untuk buyback. Dalam satu kuartal.
Tanpa perlu jual apa pun dulu. Tanpa perlu ngutang. Tanpa perlu panik nyari dana. Itu yang saya sebut amunisi, atau istilah yang sering saya pakai di Ebook ProfitWise adalah dry powder.
Sebenarnya ini cukup kontras dengan apa yang sering terjadi pada investor ritel. Kebanyakan dari kita justru akan menghabiskan seluruh modal (bahkan sampai ngutang) ketika pasar sedang euforia dan di harga tinggi, karena disitulah FOMO paling kuat terjadi.
Akibatnya, ketika pasar akhirnya crash/koreksi dan harga saham turun (yaitu momen yang seharusnya paling kita tunggu sebagai investor), kita akhirnya cuma bisa jadi penonton, TANPA punya amunisi untuk tambah muatan.
Crash itu cuma bisa dimanfaatkan oleh mereka-mereka yang paham dan punya amunisi. Saat momentum hadir, kita punya KEMAMPUAN BERGERAK di saat orang lain sudah "lumpuh".
Ini adalah pelajaran paling berharga yang saya rasakan langsung ketika Pandemi COVID lalu. Saat agresif-agresifnya berinvestasi, saya tidak menyiapkan kas/dry powder. Alhasil ketika pasar crash, porto saya turun. Namun karena saya paham investasi jangka panjang, maka saya tidak panic selling.
Tetapi saya juga tidak banyak untung karena porto hanya mengikuti pasar saja. Pasar crash ikut turun, pasar rebound ikut come back.
Dan realisasinya langsung sudah dirasakan di crash 2025 lalu, dan semoga bisa dirasakan juga jika IHSG sudah rebound di 2026 ini ๐.
Pelajaran 3: Sabar 14 Kuartal, Sesuatu yang Hampir Mustahil buat Ritel
Saya mau angka ini benar-benar diresapi: 14 kuartal berturut-turut jadi penjual bersih.
Itu 3,5 tahun! Tiga setengah tahun di mana mereka pasti dikritik, disebut ketinggalan zaman, disebut terlalu takut, disebut kehilangan sentuhan (apalagi era AI seperti sekarang). Dan mereka tetap jalan dengan pendiriannya.
Ini mengingatkan saya dengan Buffett di era dotcom awal 2000-an. Dia dikritik dan diejek karena tidak masuk sama sekali, padahal banyak saham saat itu sudah naik ratusan %.
Hasilnya? Kita tau sendiri bubble dotcom itu bagaimana. Banyak ritel yang nyangkut di pucuk, jadi the last greater fools, dan nilainya hilang tidak lagi -50% - 70%, melainkan banyak yang bangkrut dan POOF GONE. Semuanya terjadi sangat cepat.
Ketika Buffett bisa tahan 14 kuartal atau 3,5 tahun cuma jual saja tanpa beli apa pun, kita? Jangankan 3,5 tahun, 3,5 hari ga transaksi aja udah pusing kayaknya ๐. Baru naik 2% sampai 5%, bawaannya udah mau TP (Take Profit).
Pelajaran 4: Prinsipnya Konsisten, Bahkan ke Saham Sendiri
Alasan mereka membeli kembali sahamnya sendiri itu bukan karena harga sahamnya lagi turun, bukan karena mau menjaga persepsi pasar, dan bukan karena lagi punya uang lebih.
Alasannya cuma satu: nilai intrinsiknya dinilai lebih tinggi dari harga pasarnya.
Itu persis definisi value investing. Beli kalau harga ada di bawah nilainya, alias undervalued. Dan yang menarik, prinsip itu benar-benar mereka terapkan ke perusahaan mereka sendiri. Ingat, mereka buyback perusahaan mereka sendiri, Berkshire, bukan beli perusahaan lain.
Ini adalah hal yang sebenarnya harus diterapkan oleh setiap owner bisnis yang sudah Tbk. Kalau kita yakin dengan perusahaan sendiri dan sedang dihargai "murah", kenapa harus takut untuk buyback?
Buat kita artinya sederhana. Keputusan beli itu selalu berangkat dari satu pertanyaan yang sama: apakah harganya sekarang di bawah nilai bisnisnya? (prinsip #2), karena prinsip #1 sudah pasti, toh tidak mungkin mereka beli kalau perusahaannya tidak baik.
Ingat: beli saham itu beli BISNIS.
Pelajaran 5: Yang Bikin Konsisten Itu Metodenya, Bukan Orangnya
Buffett sudah tidak lagi menjabat CEO sejak awal 2026. Maka pengambil keputusan sekarang adalah Greg Abel.
Tapi coba perhatikan alasan yang dia pakai saat belanja besar kemarin: nilai intrinsik lebih tinggi dari harga pasar.
Bahasanya sama. Kerangka berpikirnya sama. Orangnya ganti, tapi METODENYA tetap.
Ini pelajaran besar buat kita. Alasan sebuah portofolio konsisten dalam jangka panjang itu bukan kejeniusan satu orang, tapi kerangka berpikir yang bisa diulang (repeatable).
Kalau cara memilih saham cuma bergantung pada feeling atau ikut-ikutan orang, hasilnya akan acak. Tapi kalau ada metode yang jelas, hasilnya bisa diukur, dievaluasi, dan diperbaiki.
Sebagai catatan tambahan yang menarik, Berkshire juga masuk ke Alphabet (GOOGLE) dengan porsi cukup besar sampai jadi salah satu kepemilikan terbesar mereka. Padahal dulu, mereka terkenal menghindari sektor teknologi.
Jadi metode yang baik itu bukan berarti kaku dan anti berubah. Hal yang tidak boleh berubah itu PRINSIP penilaiannya, bukan sektornya.
Ngomong-ngomong soal prinsip, sebuah konsep atau kerangka berpikir yang repeatable di berbagai kondisi market. Dan framework tersebutlah yang membantu saya konsisten Beat The Market selama 7 tahun berturut-turut seperti kinerja Gh Portfolio di atas.
Hal itulah yang saya jelaskan di Ebook ProfitWise lewat Metode FCDS-T. Kalau investor mau belajar metode yang serupa, bisa cek di sini ya:
๐ Ebook ProfitWise: Metode FCDS-T
Pelajaran 6: Berhenti Menjadikan Posisi Kas Orang Lain Sebagai Sinyal
Terakhir, dan ini yang paling praktis.
Selama dua tahun terakhir, banyak sekali konten yang bilang "Buffett numpuk kas, artinya crash besar sudah dekat". Faktanya, mereka menumpuk kas bukan karena bisa meramal tanggal crash. Mereka menumpuk kas karena tidak menemukan harga yang menarik untuk ukuran uang sebesar mereka.
Ini masalah VALUASI. Dan yang penting adalah, masalah mereka bukan berarti masalah kita.
Mereka harus mencari perusahaan yang cukup besar untuk menampung puluhan miliar dolar, maka tentu saja pilihan mereka sangat terbatas.
Sedangkan kita, investor ritel dengan modal jauh lebih kecil, tentu saja memiliki jauh lebih banyak pilihan. Kita justru bisa masuk ke perusahaan bagus yang ukurannya terlalu kecil untuk dilirik orang-orang dengan modal besar seperti smart money atau professionals institusi.
Ini juga yang sering saya dengar narasinya: "kalau uangnya masih kecil, jutaan doang, bakal beda perlakuannya bang sama yang mainnya di miliaran."
Faktanya di IHSG sendiri ga separah itu kok. Seperti yang saya bilang di awal, kapitalisasi IHSG ada di kisaran Rp10.000 triliun. Jadi 1% saja berarti butuh Rp100 triliun. Bahkan Rp1 triliun, yang notabene sudah sangat besar di Indonesia, itu cuma 0,01% saja.
Jadi kalau modalnya masih di angka puluhan miliar, porsinya cuma sekitar 0,0001%. Alias tidak berasa di pasar secara umum. Kecuali ya kalau kalian bermain di saham dengan valuasi ratusan miliar saja dengan kinerja biasa saja atau bahkan buruk. Itu sih, sejak awal juga sudah di luar risiko saya.
Maka berhenti menjadikan posisi kas orang lain sebagai sinyal beli atau jual, atau bahkan sebagai pembanding posisi di market. Penilai paling utama ya porto kita sendiri. Kalau masih buruk, bahkan lebih buruk dari pasar, masalahnya ada di kita, bukan orang lain.
Lalu Nyambungnya ke Kita di Sini?
Pasar kita baru saja melewati periode yang berat. Banyak saham turun pasca kejadian MSCI, bahkan saham-saham konglomerasi banyak yang turun di atas 50%.
Dan crash ini tidak cuma berdampak ke saham gorengan yang sudah naik tinggi. Banyak perusahaan yang bisnisnya baik juga ikut terdampak cukup dalam, yang secara teori justru periode seperti inilah yang ditunggu investor.
IHSG sendiri sudah mulai rebound beberapa bulan terakhir. Pertanyaannya, ketika harga-harga masih banyak yang sedang diskon, apakah kita punya amunisi?
Saya sendiri, seperti yang pernah di-share beberapa kali di sosial media, sudah entry di beberapa titik area support dari IHSG. Dan Juni lalu pun sempat menambah kas dari aset lain (Saham US), untuk dimasukkan ke aset dari saham BEI ketika IHSG sedang di bottom-nya.
Hal itulah yang membantu saya sempat "tembak peluru" dari amunisi yang saya punya ketika dapat momentum harga bawah. Maka berulang-ulang kali saya katakan, asset allocation itu kalau tidak lebih penting, ya sama pentingnya dengan stock picking.
Jadi pelajaran terbesar dari cerita kas Berkshire ini menurut saya bukan soal angkanya yang fantastis.
Pelajarannya yaitu: menunggu itu bagian dari strategi. Uang tunai memberi kita pilihan. Dan pilihan itu baru terasa nilainya di momen yang tidak bisa kita prediksi waktunya.
Pertanyaannya, kalau kesempatan seperti itu datang bulan depan, apakah investor sudah siap?
Stay Iqra.
Salam, Gh Portfolio
๐ฉ Mau Dapat Catatan Investor Rutin di Email?
Kalau investor mau dapat tulisan seperti ini secara rutin, bisa join newsletter langsung di website GH ya.