Warga Tuban dapat ganti rugi tanah miliaran, lalu habis dalam waktu singkat. Kenapa kaya/miskin itu soal mindset bukan nominal, dan kenapa money management lebih penting daripada sekadar investasi.
Edisi 3 Agustus 2026 路 5 menit baca
Halo investor,
Beberapa waktu lalu cukup ramai kasus warga di Tuban yang mendapat ganti atas tanah sampai miliaran rupiah. Ada yang dapat 8 miliar, bahkan banyak juga yang puluhan Miliar. Tidak lama setelah itu mereka ramai-ramai membeli mobil baru, barang mewah, intinya gaya hidup naik secara drastis.
Dan tidak butuh waktu lama juga, banyak dari mereka akhirnya kembali ke kondisi awal dimana uang miliaran tersebut habis dalam waktu yang relatif singkat.
Dari sini terbukti satu hal yang sering saya yakini: kaya atau miskin itu bukan cuma soal angka.
Uang Cuma Memperbesar Karakter Asli
Banyak orang berpikir: "kalau saya punya uang banyak, masalah saya selesai." Sebagian benar, namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Uang seringkali hanya memperbesar karakter asli kita. Kalau karakternya konsumtif dan boros, uang banyak akan sama dengan uang sedikit, yaitu akan habis-habis juga. Kalau karakternya disiplin dan paham kelola aset, uang banyak justru akan bertumbuh.
Walau terdengar klise, tapi perbedaannya seringkali hanya ada pada mindsetnya:
- Mindset "miskin": boros, konsumtif, butuh validasi, hidup untuk terlihat kaya, fokus utama adalah gengsi.
- Mindset "kaya": kelola aset, pikir jangka panjang, tahu prioritas, hidup untuk bertumbuh, dan bisa membantu banyak orang.
Kalau kita melihat kaya hanya dari nominal, maka punya kas sebesar 8 miliar sudah tentu masuk kategori tinggi. Tapi kalau mindsetnya tidak berubah, uang sebanyak apapun akan habis juga. Dan karena mereka sudah tidak punya tanah yang memberinya pekerjaan (income), maka kalau kas sebanyak itu habis, ya sudah, mereka tidak punya pemasukan lagi.
Itulah alasan kenapa penjudi atau tukang lotre yang menang dan mendapat banyak uang (secara instan) biasanya tidak butuh waktu lama akan kembali ke awal, karena dapat dikatakan mereka "memang belum pantas" untuk nominal tersebut.
Kenapa Uang Selalu Kembali ke Pemiliknya
Ada satu quote menarik yang cukup terkenal: "kalau seluruh uang di dunia dibagi rata ke semua orang, dalam 5 tahun, orang kaya akan kembali kaya dan orang miskin akan kembali miskin."
Kenapa bisa begitu? Karena yang membentuk kekayaan bukan uangnya, tapi ilmu, mental, dan kebiasaan. Orang yang sejak awal punya skill/ilmu akan bisa mencari uang lebih, dan orang yang dulu paham cara kelola uang akan kembali membangun kekayaannya.
Dan mereka-mereka yang tidak punya skill & tidak paham, pada akhirnya akan kembali kehilangan dan kembali ke awal. Sama halnya dengan saham, banyak yang menyalahkan invest di saham banyak ruginya, susah, bodong. Rugi ya karena tidak paham; mau aliran manapun, kalau paham akan untung-untung saja.
Ini yang sering dilupakan. Kita selalu fokus mengejar nominal, ingin ini-ingin itu, sampai akhirnya banyak termakan dengan investasi bodong yang too good to be true karena ingin "cepat kaya".
Itulah alasan literasi keuangan lebih penting: ada tingkatan yang lebih penting di atas investasi, dan itu adalah money management.
Sedikit Catatan soal Istilah "Miskin"
Saya pribadi kurang suka pakai istilah "miskin" secara sembarangan. Karena dalam Al-Quran orang miskin punya klasifikasi sendiri; orang miskin adalah orang yang mulia, dan mereka adalah orang yang tetap menjaga harga diri, tidak minta-minta meski dalam kekurangan. Orang miskin yang tidak minta-minta itu justru sangat mulia.
Nah yang sering jadi masalah di sekitar kita itu seringkali bukan orang "miskin", melainkan "mental/mindset miskin". Padahal sebenarnya hidup cukup-cukup saja, punya kendaraan, punya smartphone, tapi selalu merasa ingin dikasihani, selalu merasa hidupnya paling susah, selalu merasa playing victim, dengan tujuan untuk "bisa meminta-minta".
Ada kalimat menarik dari buku "Magnet Rezeki" (yang termasuk ke salah satu buku terbaik versi saya): "Rezeki itu berbanding lurus dengan seberapa besar 'KEBERMANFAATAN' (dampak) kita bagi orang lain."
Contoh: kenapa Google bisa sebesar sekarang? Bisa se-KAYA sekarang? Bisa punya REZEKI sebesar sekarang? Coba lihat, seberapa besar MANFAAT Google di kehidupan umat manusia di bumi ini? Mau dari negeri asalnya juga sampai seluruh dunia.
Di Indonesia, coba lihat perusahaan-perusahaan besar. Seberapa besar manfaat yang diberikan mereka? Pada konsumennya langsung, karyawannya, stakeholders, bahkan lingkungan di sekitarnya.
Maka saya sendiri selalu meng-imani kalau rezeki berbanding lurus dengan pengaruh (kalau bisa baik), karena itu, jadilah penyebar manfaat kepada orang lain.
Dan salah satu leverage untuk menggapai area & kebermanfaatan yang lebih besar adalah dengan meningkatkan ilmu atau pemahaman kita. Seperti Tuban, kalau kita punya ilmu, dengan kas sebesar itu yang didapat, alih-alih digunakan untuk konsumtif pribadi yang berlebihan, bisa digunakan untuk hal lain yang jauh lebih bermanfaat bahkan lebih menghasilkan bagi sesama.
Bangun mental dulu, sebelum membangun rekening.
Dan kalau mental + ilmunya sudah siap, uang sebesar itu justru bisa jadi mesin yang bekerja sendiri. Coba kita hitung.
Kalau dihubungkan ke investasi, modal 8 miliar kita masukkan untuk mencari yield dari saham dividen sebesar 10%/tahun, maka setiap tahunnya bisa mendapat return sebesar 800 juta! Kalau dibagi per bulan saja itu sudah Rp66 juta. Rasanya angka segini LEBIH DARI CUKUP untuk KEBUTUHAN hidup kan ya? (ingat KEBUTUHAN ya, bukan KEINGINAN).
Kalau konservatif sedikit dan diturunkan bukan ke saham melainkan obligasi dengan return 7% pun, kita bisa mendapat 560 juta/tahun atau Rp46,7 juta setiap bulannya.
Namun kalau investor sendiri, kira-kira misal dapat 8 Miliar, apa yang bakal kamu lakukan? Juga kalau diinvestasikan, akan disebar seperti apa? Boleh direnungkan ya 馃榿.
Stay Iqra.
Salam, Gh Portfolio
馃摡 Mau newsletter seperti ini rutin di email?
Kalau investor mau dapat tulisan seperti ini secara rutin, bisa join newsletter langsung di website GH ya.