Saat IHSG anjlok, kenapa porto bisa tetap floating profit? Soal asset allocation (Core, Growth, Spekulasi), definisi 'loss', dan peran dividen.
Edisi 7 Juni 2026 ยท 5 menit baca
Beberapa waktu terakhir, cukup banyak pertanyaan masuk yang serupa: "Bang, gimana kondisi porto IHSG kacau gini?" Sekalian pertanyaan soal bukti bahwa saham yang saya beli memang yang ada di Watchlist Gh.
Di sini saya kutip dari beberapa data porto saya sendiri. Jujur saya kurang suka share emiten langsung begini karena takut "ditelan" asal-asalan. Tapi tidak apa, anggap saja seperti Studi Kasus di Ebook ProfitWise.
Secara overall dalam kondisi IHSG seperti ini (crash), porto saya masih floating profit. Bahkan beberapa di atas belum termasuk keuntungan dari dividen.
ASII contohnya, tahun ini membagi dividen Rp390 per lembar. Dengan avg saya di Rp4.824, yield saya setara 8%-an. Dengan kondisi -5,26%, kalau ditotal: -5,26% + 8% = 2,74%. Masih profit. "Kecil banget 2,74%!" Benar, tapi bandingkan dengan IHSG yang YTD -35,53%. Jangankan plus, tidak minus separah itu saja sudah untung kan ๐ .
"Lalu, ada saham yang minus tidak, Bang?" Tentu ada. Tidak mungkin analisis kita 100% benar ๐.
OBMD nyaris -40%, di -35,08%. Kalau investor perhatikan, sahamnya minus tapi tetap tidak melebihi penurunan IHSG. Kok bisa? Saham dengan fundamental baik punya "bantalan" saat crash. Beberapa saham di atas bahkan masih profit.
Bagi pembaca Ebook ProfitWise atau pemilik Watchlist Gh, pasti paham istilah Core, Growth, & Spekulasi, kategori saham yang biasa saya bagi. OBMD minus -35%, tapi dia jenis spekulasi, jadi alokasinya kecil. Itulah kenapa porto masih floating profit: yang minus pun tidak berdampak besar ke keseluruhan. Itulah ilmu asset allocation.
Sebenarnya, apa definisi "loss"?
ADMR saya dari floating profit 150%+ sekarang tinggal 80%-an; ASII dari +40%-an (ingat, Core, alokasi besar) jadi -5,26% (plus dividen tadi); OBMD -35%. Apakah kondisi "tersisa" ini disebut "loss"? Tergantung definisi tiap orang.
Bagi saya, selama masih hold karena perusahaannya masih baik, harganya tinggal menunggu pelan-pelan kembali saat pasar normal. Kerugian baru benar-benar jadi kerugian kalau direalisasikan, alias dijual rugi karena panik.
Bahkan di sini belum saya hitung saham "legacy" (Studi Kasus di ProfitWise) yang saya pegang sejak 2016. Akumulasi dividennya saja sudah jauh menutupi loss yang ada ๐.
Saham di atas (ADMR, ASII, ADES, OBMD) semuanya masuk Watchlist Gh di edisi-edisi sebelumnya. Kenapa saya beli itu dibanding yang lain? Seperti saya jelaskan di watchlist, kondisi porto setiap orang beda, dan saham di Watchlist memang bisa disesuaikan dengan kondisi porto masing-masing investor.
Kenapa OBMD bisa minus paling besar? Selain kategori spekulasi yang lebih fluktuatif, dia baru masuk di edisi terakhir (Annual 25) yang rilis Februari 2026. Pasar saja -35%, wajar kalau beli di timeline yang sama ikut merah.
Inti yang ingin saya share. Tugas investor bukan meramal masa depan, karena tidak ada yang tahu pasti. Tugas kita adalah memanajemen risiko sesuai profil yang cocok bagi kita.
Itu sebabnya saya selalu bagi porto ke 3 kategori (Core, Growth, Spekulasi) dengan alokasi berbeda. Bukan supaya tidak pernah salah, tapi supaya kalau salah, kesalahannya tetap terukur. Salah di spekulasi yang porsinya 5% dampaknya beda jauh dibanding salah di Core yang porsinya 40%.
Kalau investor mau lihat saham-saham berfundamental kuat di Watchlist Gh edisi laporan keuangan terbaru Q1 2026:
๐ Akses Watchlist Gh: 30 Saham Berfundamental Kuat
Selain saham Indo (BEI), ada saham US juga, contohnya AMD (thesis di edisi awal tahun):
Hanya satu kuartal sudah multibagger ๐. Lumayan jadi "penetral" saat IHSG drop.
P.S. Saham di artikel ini hanya untuk pembelajaran. Timing saat saya masuk bisa berbeda kalau investor masuk hanya karena "ngikut". Sesuaikan dengan profil risiko masing-masing.
Stay Iqra.
Salam, Gh Portfolio
๐ฉ Mau newsletter seperti ini rutin di email?
Kalau investor mau dapat tulisan seperti ini secara rutin, bisa join newsletter langsung di website GH ya.
๐ Kunjungi ghanifaza.com