Rangkuman insight dari puluhan buku keuangan (Psychology of Money, Atomic Habits, Rich Dad Poor Dad, The Intelligent Investor, Cashflow Quadrant, dll) disusun jadi 3 tangga kekayaan: Rp0-100 juta, Rp100 juta-1 Miliar, dan Rp1-10 Miliar.
Edisi 3 September 2026 路 10 menit baca
Halo investor,
Sebelumnya saya pernah membuat video di YouTube terkait "Insight yang saya dapat setelah membaca puluhan buku keuangan". Buat yang suka versi video bisa tonton disini.
Disini saya akan sedikit rangkum bagian-bagian insightful dari beberapa buku yang saya baca, terutama yang di-implementasikan langsung (setidaknya) dalam kehidupan saya.
Dan agar rapi, saya susun jadi 3 Tangga Kekayaan, yang kebetulan investor di Newsletter Gh ini pun tingkatannya sangat beragam sekali sampai puluhan M juga ada 馃榿.
Tangga 1: Rp0 ke Rp100 Juta Pertama
Ini yang paling berat. Dan yang jadi bottleneck biasanya bukan strategi atau background, melainkan "wadah" atau kepalanya.
Kita sering denger doktrin "hati-hati dengan uang, dia akar dari segala kejahatan". Nggak salah, tapi masalahnya bukan uangnya, melainkan orangnya. Ibarat pisau, bisa dipakai buat hal baik seperti masak dan bantu orang, tapi bisa juga buat hal buruk. Uang pun sama. Biasanya orang yang nggak bisa manfaatin uang, dialah yang nakut-nakutin soal uang.
Dan rasanya di berbagai agama tidak ada larangan jadi kaya. Bahkan makin kaya, kebermanfaatan kita semakin besar, dan itu yang harusnya jadi target. Bagi saya, uang adalah "alat kebebasan" terutama untuk memberikan kita lebih banyak opsi/alternatif.
Di buku The Psychology of Money ada satu poin menarik yang seringkali jadi permasalahan orang sekarang terutama di era sosial media. Orang kaya beneran itu berbeda dengan mereka yang 'terlihat kaya'; kekayaan sebenarnya justru hal yang tidak terlihat. Saya sering menyamakan antara "kekayaan" dengan "ketakwaan". Seringkali orang yang benar-benar kaya & benar-benar takwa tidak akan terlihat hanya dari identitas atau suatu hal "yang mereka tampilkan" ke publik. Ketika kita mengejar untuk terlihat kaya, maka kekayaan yang justru akan menjauh.
Lalu soal kebiasaan, Atomic Habits bilang kebanyakan orang selalu terobsesi dengan hasil akhir (result) yang nggak bisa mereka kontrol, padahal yang bisa dikontrol itu PROSESnya. 1% lebih baik setiap hari yang dilakukan selama setahun, akan memberikan dampak 37x lipat. Perubahan kecil yang dilakukan rutin akan memberikan dampak compounding yang luar biasa dalam jangka panjang, persis seperti dalil juga kan 馃榿.
Namun sayangnya, era sosial media membuat generasi muda melihat kalau hasil adalah hal yang mudah. Umur sekian harus punya gaji sekian, umur sekian tabungan sekian, dst, semua itu tanpa melihat prosesnya bagaimana. Dan karena umurnya sama, mereka seakan-akan BERHAK setara dengan orang lain tersebut. Lucu ya. Padahal mungkin start mereka dan bahkan garis finish tujuannya akan berbeda.
Ada juga satu kebiasaan uang paling penting yang bisa jadi fondasi. Ini berasal dari buku klasik The Richest Man in Babylon: bayar diri sendiri DULU. Begitu gajian, SISIHKAN buat aset di depan, baru sisanya dipakai hidup. Bukan sebaliknya. Kalau dagang atau bisnis pun jangan lupa, banyak pebisnis tidak menggaji diri sendiri, padahal mereka manajemen, operasional alias karyawan perusahaan sendiri, maka WAJIB dapet gaji.
Lalu fondasi penting dari Rich Dad Poor Dad, salah satu buku game changer di kehidupan saya dengan RoI mungkin entah berapa juta % dari harga buku di bawah 100rb. Intinya segala hal tentang uang itu cuma 2: ASET atau LIABILITAS. Aset masukin uang ke kantong, liabilitas ngeluarin. Orang kaya fokus beli aset dulu, dan kalaupun ada liabilitas, harus lebih rendah dari aset yang masuk ke kantong.
Kenapa aset ngalahin nabung? Saya kasih tebakan: mau saya kasih Rp100 juta cash sekarang, atau Rp1 yang saya lipatgandakan tiap hari selama sebulan? Kebanyakan akan langsung pilih Rp100 juta. Padahal Rp1 yang digandakan selama 30 hari itu jadi lebih dari Rp1 MILIAR. Itulah kekuatan compounding, dari buku The Compound Effect.
Namun tentu saja kalau investor sudah rajin membaca Newsletter Gh ini akan paham, kita tidak bisa asal nyemplung ke saham, harus selalu paham WHY alias alasan masuknya.
Basic utama value investing saya tentu saja dari The Intelligent Investor nya Graham. Buku itu mengajarkan: bayangin ada tokoh bernama Mr. Market yang tiap hari ketok pintu dan menawarkan harga berbeda-beda. Kadang ngawur, hari ini 1000, besok 500, padahal dari sisi bisnis ya sama-sama saja. Harga saham itulah yang dimaksud permintaan pasar sebagai "pelelangan", dan BUKAN nilai asli (value) dari bisnisnya, toh namanya bid & offer pun serupa dengan lelang kan. Saham yang harus dibeli kalau siap mengabaikan Mr. Market, karena yang kita beli adalah bisnis yang nyata, dan itulah yang disebut margin of safety. Ingat: beli saham = beli bisnis.
Dan terakhir di tangga ini, dari One Up on Wall Street nya Peter Lynch, ada kalimat yang bisa dilakukan bagi investor pemula yang bingung pilih saham: "kalau kalian suka dengan tokonya (produknya), kemungkinan kalian akan suka dengan sahamnya." Artinya keunggulan kita sebagai ritel ada di produk yang kita pakai dan pahami sehari-hari.
Intinya di tangga pertama ini: pahami VALUE. 100 juta pertama dibangun dari mindset yang benar.
Tangga 2: Rp100 Juta ke Rp1 Miliar, Lepas dari Jual Waktu
Begitu kepala dan fondasi beres, tangga berikutnya adalah menghasilkan suatu nilai yang "lebih dari sekedar jual waktu".
Dari Cashflow Quadrant nya Kiyosaki, ada 4 kuadran orang dapet uang.
E buat Employee alias karyawan, S buat Self-employed, B buat Business owner, dan I buat Investor.
- Kuadran kiri, karyawan & self employed, itu jual WAKTU, dan plafonnya jelas. Sehari cuma 24 jam.
- Kuadran kanan, bisnis owner & investor, mereka pakai waktu dan uang "ORANG LAIN" untuk tumbuh. Untuk naik dari 100 juta ke 1 Miliar, minimal harus geser ke kuadran kanan.
Investasi tentu hal yang "paling mudah" karena semuanya dikontrol mandiri: kita yang invest, uang kita, dan kita jugalah yang menentukan mau sampai mana sesuai dengan risiko masing-masing.
Jangan lupa, E & S itu masih di bawah hal lain. Contoh karyawan, masih harus mengikuti aturan kantor, masih bisa kena layoff apalagi yang katanya in this economy, kerja pun terbatas waktunya. Intinya di luar kontrol kita. S pun sama, walau bebas ngatur waktu, namun hanya mendapat uang kalau kerja. Misal saya konten kreator, makin rajin upload semakin besar income saya, namun tentu akan ada algoritma yang berubah, audience juga berubah. Sama halnya dengan freelancer, income seringkali mengikuti project yang dimiliki.
Maka setidaknya kalau di S dan E, harus punya di kuadran kanan, dan paling simpel adalah I, yaitu sebagai investor. Dari yang paling low risk seperti deposito pun tidak masalah, lebih baik daripada tidak sama sekali.
Kalau mau transformasi lebih jauh, bisa nambah di atasnya melalui Bisnis. Saran saya, kalau mau mulai bisnis bisa start small dulu, apalagi kalau belum punya pengalaman. Bisnis itu awalnya sulittt, butuh strategi dan dedikasi (waktu + tenaga) penuh. Ingat return dari bisnis memang bisa ratusan kali lipat, namun jangan lupa, bisa jadi 0 juga alias bangkrut bahkan minus kalau sampai hutang.
The 4-Hour Work Week punya poin bagus: yang penting bukan penghasilan totalnya, tapi penghasilan per jam plus kebebasannya. Contoh di bisnis jualan online, ada kerjaan packing dan operasional lainnya yang mungkin bikin malas seorang owner karena makan waktu untuk hal-hal teknis, bukan strategis. Kerjaan itu bisa didelegasikan ke orang lain, entah karyawan full-time, outsource, atau freelance. Kalau sehari butuh 2 jam buat packing, dengan orang lain berarti kita bisa meng-HEMAT 2 jam.
Di buku karya Tim Ferris tersebut dikatakan, orang dengan gaji 50 juta sebulan dan kerja 80 jam seminggu belum tentu lebih kaya dibanding orang gaji 20 juta tapi kerjanya jauh lebih santai dan bebas. Ingat, kaya itu bukan cuma uang, tapi uang dan waktu luang.
Praktisnya di tangga ini adalah: naikin income, TAPI jangan (dulu) naikin gaya hidup. Tiap income naik, yang naik itu setoran ke aset, dan aset ini bisa dalam konteks uang (investasi) atau waktu (delegasi).
Dalam konteks investasi, sebagai investor ritel individu kita punya privilege tanpa beban KPI bulanan seperti manajer investasi atau smart money. Hal ini bisa membuat kita lebih SABAR menunggu bisnis bagus, matang, dalam jangka panjang.
Tangga 3: Rp1 Miliar ke Rp10 Miliar, Disiplin, Cashflow, dan Waktu
Di titik ini yang nentuin bukan lagi seberapa jago cari uang, tapi kedisiplinan. Dan ini masuk ke ranah EMOSI. Di sini cashflow sudah sangat terasa, bahkan sudah bisa ngegantiin gaji/active income. Inilah fase panen.
Satu pelajaran dari Good to Great: jadilah seperti landak, bukan rubah. Rubah selalu mencoba melompat dari satu hal ke hal lain, atau selalu mencoba trik baru. Sedangkan landak, hanya dengan "satu keahlian" tapi AMPUH. Daripada lompat-lompat dari satu hal ke hal lainnya, fokuslah dulu dan menjadi AHLI di satu hal, double down dan bermain long-game disana. Bagi saya, itu adalah value investing dengan Metode-nya tentu saja FCDS-T, metode original yang sudah saya desain sejak lama sekali.
Tinggal keputusan di sekitar Metode tersebut saja yang dikembangkan agar bisa saling support. Contohnya pembagian kategori (core, growth, spekulasi), rules Trailing Stop, alokasi aset menyeluruh, dst. Mungkin kalau ada pendekatan atau ilmu lain yang bisa jadi support setelah mendapat wisdom-wisdom tambahan seiring waktu, akan saya tambahkan juga di Ebook ProfitWise tersebut.
Mungkin ini juga yang membuat saya konsisten Beat The Market 7 tahun berturut-turut: fokus di satu hal, ulangi, evaluasi. Kalau mau lihat Ebook ProfitWise, bisa klik link di bawah ya.
馃憠 Ebook ProfitWise: Metode FCDS-T
Dan kalau mau naik lebih tinggi lagi, mungkin saatnya memahami makro. Ada buku The Changing World Order yang membahas bagaimana setiap negara adidaya memiliki pasang & surutnya. Berguna buat perspektif, TAPI bukan untuk keputusan total. Sebelum kita punya power untuk mempengaruhi hal sebesar itu, fokus saja pada hal yang bisa kita kontrol: bisnis & investasi yang kita pegang.
Ada alasan kenapa Albert Einstein berkata kalau Compounding adalah keajaiban dunia ke-8. Semakin lama kita berada dalam game yang sama (WAKTU), semakin besarlah return/gain yang akan kita dapatkan. Time in market > timing the market.
Karena saya sendiri belum masuk ke fase di atas ini, saya hentikan di fase ini saja. Mungkin investor yang sudah di atasnya (yang saya tau cukup banyak juga 馃榿) boleh sharing-sharing juga.
Maka kalau semua buku tadi saya jadikan satu kalimat: benahi kepala, bangun fondasi, pilih rute kuadran, dan bermainlah di long-game. Tidak ada yang instan.
Kalau investor mau baca bukunya sendiri agar lebih paham konteks menyeluruh, silakan di-search saja ya untuk judul bukunya, karena itu termasuk buku yang mudah dicari kok. Contoh untuk Rich Dad Poor Dad saja sudah banyak pilihannya.
Stay Iqra.
Salam, Gh Portfolio
馃摡 Mau newsletter seperti ini rutin di email?
Kalau investor mau dapat tulisan seperti ini secara rutin, bisa join newsletter langsung di website GH ya.