Super IPO Space X lagi ramai. Tapi value investing itu soal fondasi bisnis, bukan mimpi sang owner. Pelajaran dari Alibaba, BUKA, GOTO, dan MERI.
Edisi 17 Juni 2026 路 5 menit baca
Lagi ramai dibahas di mana-mana: Super IPO dari Space X-nya Elon Musk di bursa saham US. Pertanyaannya, apakah sekarang saatnya buy perusahaan seperti ini, atau ini malah "bahaya"? Super IPO ini akan disusul Anthropic (Claude), OpenAI (ChatGPT), dan Discord yang juga akan listing.
"Value Investing Itu dari Owner-nya"?
Sebelum menjawab, saya angkat satu narasi yang sempat saya dengar dari "pakar saham", yang kemungkinan investor akan mengenalinya. Argumennya kira-kira begini: kalau ownernya punya track record bagus (Elon Musk, Jack Ma, Prajogo Pangestu, dll), maka sahamnya otomatis bagus. "Beli saham itu beli ownernya".
Sayangnya, saya tidak sepakat.
Value investing yang saya pelajari dan saya pakai bukan "value dari owner", melainkan "value dari fondasi saham, alias kinerja bisnis itu sendiri". Owner yang hebat itu bonus. Tapi yang dibeli investor tetaplah saham sebagai bisnisnya (perusahaannya), bukan saham personal sang owner. Owner yang baik akan membawa bisnisnya membaik, dan itulah yang perlu dibuktikan, bukan di-judge sejak awal.
Saat "Jual Mimpi" Berakhir Pahit
Beberapa contoh historis di mana "jual mimpi" berujung pahit:
Alibaba (BABA, IPO 2014). Dipuja sebagai "Amazon-nya China", Jack Ma jadi figur yang dipercaya bisa membawa perusahaan to the moon. Harga sahamnya pernah menyentuh $300 lebih. Saat ini? Di kisaran $100-an. Dalam 10+ tahun listing, total return-nya kalah jauh dibanding index seperti S&P 500 yang sudah berlipat ganda di periode yang sama.
Bukalapak (BUKA, IPO 2021). Unicorn lokal pertama yang IPO di BEI. Harga IPO Rp 850, dengan narasi "akan jadi raja e-commerce Indonesia". Saat ini? Di kisaran Rp 100-an, turun lebih dari 85% sejak IPO. Net profit-nya awalnya konsisten loss, walau beberapa waktu terakhir mulai positif.
GOTO (IPO 2022). Merger Gojek dan Tokopedia, katanya akan menguasai Asia Tenggara. IPO di Rp 388. Saat ini? Di kisaran Rp 60-70, turun lebih dari 80% dari IPO. Net profit-nya masih minus walau sudah listing 4 tahun.
MERI (IPO 2025). Yang paling baru, perusahaan dari figur sang owner, Merry Riana. Sahamnya sempat terbang +300%, lalu akhirnya anjlok -80%.
Polanya selalu sama: menjual "mimpi besar" saat IPO, hype di sosok CEO, tapi laporan keuangannya masih merah ketika listing.
Bandingkan dengan FORE yang juga listing 2025. Harganya masih naik karena sejak awal perusahaannya sudah profit dengan baik, walau tetap perlu dinilai apakah harganya sekarang masih fair atau sudah overvalued.
Bisnis Bagus Belum Tentu Harga Wajar
Bukan berarti kita tidak boleh "memanfaatkan" saham seperti itu. Tapi bagi investor jangka panjang, perlakuannya berbeda untuk jenis saham ini, karena value bisnisnya saja masih susah dinilai, apalagi soal wajar atau tidaknya harga.
Memang benar, SPCX kalau dilihat jauh ke depan bisa jadi akan menjadi pioneer utama di sektornya. Prospeknya luar biasa. Kalau itu benar terjadi, harganya pasti melambung. Tapi, iya kalau terjadi. Kalau tidak?
Pertanyaan ini mirip dengan "Nyicil atau Hold" yang pernah saya bahas sebelumnya. Masing-masing punya pros & cons-nya sendiri, sesuaikan saja dengan profil risiko investor.
Hal yang sama berlaku untuk "saham Pak PP" yang dicontohkan "pakar saham" tadi. Saat ini, karena harga sahamnya rata-rata minus lebih dari -50%, katanya portonya sudah minus ratusan miliar 馃榿.
Jadi, walaupun perusahaannya mungkin memang bagus (prinsip 1), kalau dibeli di harga yang tidak wajar alias overvalued (prinsip 2), hasilnya tetap bisa buruk. Ketika pasar koreksi (dan pasti akan koreksi), tinggal lihat seberapa dalam koreksi itu membuat harga menjadi lebih wajar (fair), seperti banyak "saham konglo" yang harganya terkoreksi dalam.
Yang Penting: Paham Alasan Beli dan Jual
Sekali lagi, bukan berarti saya membenci saham seperti itu. Kalaupun saya masuk ke SPCX, porsi alokasi saya pasti rendah (kategori spekulasi), karena tidak sesuai dengan profil risiko saya, dan mungkin hanya jadi saham riding the wave. Saham seperti ini pun jangan sampai lupa dipasangi Trailing Stop agar bisa memaksimalkan profit, seperti yang dibahas di Ebook ProfitWise.
Tidak ada yang salah masuk ke saham dengan cara apa pun. Yang penting, kita paham alasan kita beli, supaya kita juga paham alasan menjual saham tersebut.
Kalau investor tertarik diversifikasi ke saham US (termasuk SPCX), aplikasi yang saya pakai adalah GoTrade. Link-nya bisa diakses di sini.
Stay Iqra.
Salam, Gh Portfolio
馃摡 Suka tulisan seperti ini?
Di website GH, investor bisa coba gratis: dapat free chapter Ebook ProfitWise + insight investasi mingguan lewat newsletter.
Konten ini bersifat edukasi dan bukan ajakan membeli/menjual saham tertentu. Saham & angka yang disebut hanya ilustrasi, bukan jaminan hasil. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan. Lakukan riset sendiri sebelum mengambil keputusan.