馃尡

Strategi Dividen Investing: Yield 20% dan Prinsip 'Kos-kosan'

Ringkasan

Beda dividen hunter vs dividen investor, mindset 'punya kos-kosan', kekuatan yield-on-cost (studi kasus PTBA, BMRI, ADRO), dan cara menghitung prediksi dividend yield.

Tanggal
July 21, 2026

Edisi 21 Juli 2026 路 7 menit baca

Halo investor,

Banyak orang (terutama pemula) masuk saham karena tergiur dengan dividennya. Wajar, karena dividen terdengar lebih "seksi" dari capital gain. Kita terima cash langsung yang bisa dipakai ke rekening kita.

Dalam proses mendapatkan dividen terdapat perbedaan besar antara dividen HUNTER vs dividen INVESTOR. Satunya fokus ke mencari cuan cepat (dengan risiko kena dividen trap), satunya lagi bangun cashflow pasif jangka panjang. Sama seperti pertanyaan investor ini:

Pertanyaan dividen hunter
Pertanyaan dividen hunter

"Jika saya beli h-3 pembagian dividen (cum date), dapat return dividen 9% dengan kondisi setelah ex date turun 3-5%-an, berarti pengurangan dengan fee saya masih untung, apakah efektif?"

Perilaku di atas sering disebut sebagai perilaku dari seorang dividen HUNTER. Apakah salah? Tentu tidak. Mindsetnya kurang lebih mirip dengan trading, mencari selisih keuntungan beberapa % antara dividen & penurunan harga saham setelahnya (ex date).

Risiko dari dividen hunter adalah terkena dividen TRAP. Dari contoh di atas mendapat dividen 9%, namun siapa yang tau kalau harga sahamnya malah turun sebesar -10%. Alih-alih ingin untung, kita malah rugi. Bahkan dividen 9% - capital gain -9% yang terlihat = 0, padahal sebenarnya tidak 0 melainkan RUGI karena ada fee & komisi yang perlu dibayar.

Karena kita selalu fokus ke mencari untung jangka panjang, ibarat yang sering saya katakan: "ngapain cari untung 2-5% dengan effort tinggi, kalau ternyata dalam jangka panjang bisa untung jauh lebih besar, bahkan dengan usaha yang lebih minim".

Maka di tulisan ini saya akan fokus ke pembahasan dividen investing, cara dapat income rutin tiap tahun tanpa harus menjual saham.

Mindset: Seperti Punya Kos-kosan

Simpelnya, dividen investing itu membeli saham/perusahaan yang rutin membagikan dividen, dan kita sebagai investor menikmati laba/keuntungan tersebut setiap tahun.

Misal punya 10.000 lembar saham dengan dividen Rp100 per lembar, berarti dapat Rp1 juta tiap pembagian. Naikkan jadi 1 juta lembar, dapat Rp100 juta. Simpel sekali mindsetnya & powerful, namun yang sulit itu sabar & konsistennya.

Mindset kepemilikan dividen kalau dihubungkan ke properti agar lebih relate itu mirip dengan punya kos-kosan. Kalau nilai tanah bisa naik-turun tergantung lokasi (capital gain), namun selama ada penyewa yang bayar bulanan/tahunan misal kontrak, income kita akan tetap jalan.

Di saham, "biaya sewa" tersebut adalah dividen. Walau harga saham turun pun, selama perusahaan tetap bagi dividen, kita tetap tenang. Fokus kita adalah mencari *cashflow* jangka panjang, dan bukan harga jangka pendek.

Maka satu hal yang perlu kita perhatikan adalah, apakah saham/perusahaan tersebut baik untuk bisa rutin membagikan dividen?

Kriteria Utama: Dividen yang STABIL

Ini paling penting. Jangan cuma fokus ke yield tinggi yang ternyata hanya dibagikan sesekali saja. Kalau tahun depan tidak bagi dividen, dan kita hidup dari uang tersebut? Mau makan apa kita?

Cek histori 5-10 tahun terakhir. Apakah saham ini rutin bagi dividen? Kita bisa mulai analisis tersebut dari index yang sudah difilter oleh BEI, yaitu: IDX High Dividend 20.

IDX High Dividend 20
IDX High Dividend 20

Di atas adalah contoh index. Investor bisa download yang terbaru karena ini masih edisi November - Februari 2026.

Kita ambil contoh PTBA. Silakan cek data pembagian dividen PTBA bagaimana, disini saya berikan pakai website investing.

Histori dividen PTBA
Histori dividen PTBA

Dari data di atas dapat dilihat kalau PTBA sudah rutin membagikan dividen lebih dari 20 tahun berturut-turut tanpa pernah skip satu kalipun.

Dividen per share PTBA
Dividen per share PTBA

Misal kita melihat rata-rata dividen per share dari PTBA di angka Rp330. Kalau misalkan kita beli di harga saat ini Rp2.400, maka yield kita adalah 330/2.400 = 13,75%. Dengan modal 1 Miliar, kita akan mendapat dividen 137 juta/tahun atau > 10 juta/bulan.

Namun coba kalau kita ambil contoh di case 2021-2022 dimana terdapat booming batubara yang membuat PTBA membagikan dividen jumbo sebesar 1.090/lembar (data 2022 dibagikan 2023). Dengan harga rata-rata di 2.400, yield kita bukan lagi 13%, melainkan naik menjadi 1.090/2.400 = 45,4%! 1 Miliar kita di tahun itu mendapat 450 juta.

Kekuatan Yield-on-Cost: Case BMRI

Selain mindset membeli perusahaan yang baik untuk mendapat dividen jumbo dari perusahaan siklikal seperti PTBA di atas, kita bisa gunakan hal yang sama untuk perusahaan yang bertumbuh (non-siklikal). Semakin lama kita hold, yield kita akan semakin tinggi.

Yield-on-cost BMRI
Yield-on-cost BMRI

Contoh BMRI (yang ini juga jadi studi kasus di Ebook ProfitWise).

Dengan average harga di 3.000, kalau mindsetnya adalah dividen hunter seperti contoh di awal, maka dari tahun 2021-2025 keuntungannya hanya +27,97%.

Bandingkan dengan dividen investor yang hold jangka panjang. Seiring waktu, yield yang didapat akan semakin besar, dan bahkan di tahun 2025 lalu mendapat yield hampir 2x dibandingkan hunter yaitu 15,03% vs 8,18%. Kalau ditotal selama 5 tahun maka profit +44,36%.

Terdapat selisih 16,39pp (percentage points). Modal kecil mungkin tidak berasa, kalau 1 Miliar? Perbedaannya mencapai 163 juta. Kalau 10 Miliar? 1,63 Miliar!

Itulah kelebihan dividen investing sesuai dengan prinsip kita: beli saham = beli bisnis. Bahkan kalau kita hold jauh lebih lama lagi 10 tahun - 20 tahun, yield kita bisa mencapai 100%. Balik modal tiap tahun.

Kapan Waktu Terbaik Beli?

Yang jelas BUKAN di cum date. Justru menjelang cum date, harga sedang berada di puncak-puncaknya (ini jebakan dividen trap). Ini saya contohkan dari studi kasus ADRO di tahun 2024 lalu.

Studi kasus ADRO
Studi kasus ADRO

Hunter beli di pucuk dapat harga 4.500+, saya beli karena value (jauh sebelum viral-viral) di harga 2.530. Perbedaan profitnya? Mencapai +55pp! Kerugian hunter pun cukup besar mencapai -9% tanpa dihitung fee & komisi.

Cara Hitung Prediksi Yield

Sebenarnya ada cukup banyak cara memprediksi dividen yield. Misal kita pakai contoh cepat dari PTBA di atas saja ya:

Dividen per share PTBA
Dividen per share PTBA

Kita bisa menggunakan 2 cara:

1. Rata-rata (Mean). Ambil data dividen per share, lalu rata-ratakan angkanya. Di contoh di atas misal total dividen 7 tahun = 3.449 / 7 = ~492/lembar. Lalu kita pakai harga saat ini saja: 492/2.400 = ~20,5% yield estimasi.

2. Median (nilai tengah). Kalau takut terlalu optimis dan lebih suka konservatif, apalagi terdapat outlier di tahun 2021 & 2022 tsb, maka kita bisa menggunakan Median. Dari data di atas didapat mediannya adalah 339,63/lembar. Maka yield kita menjadi: 339,63/2.400 = 14,15%. Kalau PTBA lebih tinggi? Anggap saja bonus.

Strategi dividen investing ini tentu bukan cara untuk mencari "uang cepat", melainkan seperti pohon & buah. Siapa yang paling sabar akan dapat hidup "dibalik bayangan pohon" tersebut dan bahkan menikmati buahnya (dividen).

Kalau investor mau pelajari dividen secara lengkap, beberapa studi kasus lain, dan cara memprediksi dividen selain satu cara di atas, saya bahas tuntas teknis tentang dividen di Ecourse Hidup Dari Dividen. Harga sangat terjangkau, hanya 179 ribu saja.

馃憠 Cek Ecourse: Dividend For Living

Stay Iqra.

Salam, Gh Portfolio

馃摡 Mau newsletter seperti ini rutin di email?

Kalau investor mau dapat tulisan seperti ini secara rutin, bisa join newsletter langsung di website GH ya.

馃憠 Kunjungi ghanifaza.com