Satu saham toxic yang dibiarkan bisa perlahan menarik turun seluruh portfolio. Soal sunk cost fallacy & kapan harus cut loss.
Edisi 13 Mei 2026 ยท 4 menit baca
Ada satu konsep dari buku yang baru saja saya baca tentang toxic environment di lingkungan kantor.
Ceritanya sederhana: kalau ada satu orang yang tidak bekerja sesuai tanggung jawabnya, dan atasan maupun perusahaan membiarkan hal itu terjadi, hal seperti ini lama kelamaan akan berdampak ke lingkungan di sekitarnya.
Orang-orang yang tadinya produktif, pelan-pelan mulai malas, standar kerja turun. Bukan karena mereka tidak mau bekerja keras, tapi karena lingkungannya sudah mentolerir yang tidak beres. Ibarat "lah itu org kerja asal-asalan aja dapet gaji2 juga, kenapa gua harus kerja bener?". Dan itulah awal mula toxic environment menyebar. Bagi pekerja kantoran mungkin akan sangat relate dengan hal seperti ini ๐.
Dimana konsep tersebut tidak hanya berlaku pada lingkungan kantor, melainkan bisa ke berbagai hal, termasuk portfolio saham.
Kalau ada saham yang memang tidak seharusnya ada di portfolio - misal saham gorengan yang terus menggerogoti modal, tidak pernah recovery, tapi tetap kita biarkan begitu saja, dampaknya bisa jadi tidak berhenti di saham tersebut saja.
Modal yang seharusnya bisa diputar ke tempat yang lebih produktif, malah terus "dikuras" untuk menutupi kerugian. Atau lebih parah lagi: saham-saham lain yang sebenarnya bagus, terpaksa dijual lebih awal "hanya untuk menambal" saham toxic itu. Coba, investor, ada ga saham seperti itu di porto?
Pola-nya biasanya serupa: bermula dari "ah, mungkin sebentar lagi balik" โ berubah jadi "average down dulu, harga lagi turun biar break-even cepet" โ akhirnya jadi "udah segini juga, sayang kalau dijual, lumayan modalnya saya tambah terus" โ dan modal terkunci di sana berbulan, bahkan bisa bertahun-tahun.
Satu hal yang perlu dipahami, kalau Toxic itu menular.
Tidak hanya di portfolio. Di kantor, di lingkaran pertemanan, bahkan dalam suatu hubungan. Satu elemen yang DIBIARKAN bermasalah bisa perlahan menarik turun semuanya - saya highlight DIBIARKAN karena hal ini konteksnya dapat dicegah.
Energi yang seharusnya dipakai untuk hal-hal produktif pada akhirnya habis tergerus untuk "menambal" hal toxic. Fokus yang seharusnya bisa di alokasikan pada peluang baru, malah terbagi karena masih "berharap" yang lama akan membaik.
Dan ini bagian paling tricky-nya: justru karena sudah invest banyak (waktu, tenaga, & modal) di sana, jadi makin sulit melepas. Sunk cost fallacy. "Sayang melepas sesuatu yang sudah 'dijaga' sekian lama."
Pertanyaannya adalah.. "seberapa lama kita akan membiarkan hal tersebut?"
Sebenarnya ini pertanyaan yang perlu investor jawab sendiri, mungkin beberapa poin ini bisa jadi refleksi:
- Saham yang sudah merah lama itu, apa alasan saya beli dulu ya? Apakah pure hanya ikut-ikutan? Atau karena saat itu fundamentalnya baik? Kalau baik, apakah saat ini masih baik atau tidak? Jika sudah tidak cocok maka cut-loss bisa menjadi opsi.
- Lanjut pertanyaan ke-2, kalau dana yg nyangkut disini saya pindah ke saham lain yang potensial, berapa potensi recovery dari saham tersebut?
- Sudah berapa lama saya tahu saham ini bermasalah, tapi belum action apa-apa?
Kita pakai contoh salah satu saham growth yang return nya tidak terlalu besar di 51% dari Watchlist edisi Q1 2025 tahun lalu. Misal kita punya modal 10 juta, anggaplah kita pakai 2 juta untuk dimasukkan ke saham gorengan dan kita hold terus karena "sayang" sampai harganya saat ini -50%, -60% yang berarti dari 2 juta hanya tersisa 800 ribu saja.
Namun karena paham, anggap kita meng-cut saham toxic tersebut ketika terkena threshold rule untuk menjual di -30% yang berarti kita tarik di modal 1.4 juta. Kita invest lah saham tersebut ke contoh saham di atas yaitu NCKL. Karena sampai saat ini harganya naik 51%, berarti dari 1.4jt kita dapat +700ribu dan modal akhir kita di 2.1 juta. Walau kalau dari total modal awal (2 juta) kita hanya untung 100 ribu atau 5%, tetapi perbandingan kita adalah antara 2.1 juta dengan 800 ribu jika kita membiarkan hal toxic tersebut terus menggerogoti porto kita.
Atau anggap jangan 50% yang terlalu tinggi, ambil 10-20% saja. Berarti +280rb (20%) dan modal kita menjadi 1.68 juta - walau masih minus dari modal awal 2 juta, tetapi perbedaan kalau kita bermain karena perasaan (hal toxic) adalah mencapai 100% dari 800 ribu ke 1.68 juta. Disini kita contohkan modal kecil saja 2 juta, bayangkan kalau 20 juta, 200 juta, 2 miliar. Rasanya perbedaannya akan semakin berasa kan?
Bagi pembaca Ebook ProfitWise, prinsip terkait investasi jangan berdasarkan emosi dan perlu membuat rules sendiri - untuk meng-cut saham toxic - sudah dibahas di Bab Maintenance Saham - Trailing Stop.
Dan karena bulan ini juga Watchlist dari laporan keuangan edisi terbaru Q1 2026 akan rilis - waktu rilis diharapkan tanggal 27-29 (nanti akan diinfokan lagi) - kalau investor tidak mau tertinggal info awal boleh join waiting list dengan klik link di bawah ya.
Join Waiting List Watchlist Gh Edisi Terbaru
P.S. Konsep toxic environment ini sebenarnya hal yang hanya kita sendiri yang bisa menjawab & memprosesnya. Karena terkadang "batas toxic" akan berbeda-beda bagi setiap orang.
Stay Iqra.
Salam, Gh Portfolio
๐ฉ Suka tulisan seperti ini?
Di website GH kamu bisa coba gratis โ dapat free chapter ebook ProfitWise + insight investasi mingguan lewat newsletter.
๐ Kunjungi ghanifaza.com โ Coba Gratis
Konten ini bersifat edukasi dan bukan ajakan membeli/menjual saham tertentu. Angka & saham (termasuk contoh NCKL) hanya ilustrasi, bukan jaminan hasil. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan.