Cerita boncos bisnis merch karena salah kasih porsi effort, dan kenapa dorongan 'coba-coba' saat bosan perlu dibatasi. Dua masalah umum + solusi alokasi, sampai kenapa porto dibagi Core/Growth/Spekulasi (spekulasi = tempat resmi coba-coba).
Edisi 14 September 2026 路 7 menit baca
Halo investor, Bertemu lagi di Catatan Investor Gh.
Belum lama ini saya baca satu artikel menarik terkait kebosanan yang jarang dibahas. Bukan bosan karena gagal, melainkan bosan karena sudah "terlalu mahir".
Begitu satu hal dikuasai dan berjalan secara otomatis, rasa & semangat yang dulu ada malah hilang, dan biasanya ini menjadi trigger untuk mencoba banyak hal baru.
Sebagai orang dengan jiwa generalis, saya sangat relate dengan hal tersebut. Jiwa ingin mencoba-coba, trial, itu selalu saya rasakan dalam berbagai aspek.
Cukup lama saya memiliki income yang stabil sebagai konten kreator di YouTube, dan bahkan dapat saya katakan kalau itu "lebih dari cukup". Tentu saja hasrat dan semangat tersebut menggebu-gebu dalam beberapa periode awal.
Sampai semua pekerjaan tersebut sudah terasa monoton alias "berjalan secara otomatis". Semangat untuk terus berkreasi menjadi hilang dan muncullah rasa bosan. Tidak salah kalau ada yang bilang "Monotony is poison for the spirit".
Lalu apa yang saya lakukan untuk terus "semangat"? Karena melihat YouTuber lain banyak yang memiliki Merchandise dari channelnya, akhirnya saya pun ikutan untuk membuat Merchandise sendiri yang saat itu TANPA PENGALAMAN.
Mendatangi beberapa vendor untuk membuat kaos, memikirkan ide desain, marketing, dsb. Tentu saya sangat berambisi dan semangat untuk membangun Merchandise ini sebagai turunan dari produk channel saya tersebut.
Sebagai solopreneur, saya memutuskan untuk melakukan mayoritas dari pekerjaan sendiri dahulu sambil mencari polanya bagaimana.
Aktif ngonten di sosial media, memikirkan ide desain, packing, dan marketing (iklan ecommerce & sosial media). Tentu saja sambil aktif ngonten di YouTube (+ free marketing) karena itu adalah sumber income utama saya.
Di beberapa waktu awal memang terbilang bagus, konversi tinggi dari penonton setia channel untuk membeli Merchandise-nya. Makin semangat saya membuat desain dsbnya yang akhirnya fokus jadi terbagi antara main income (channel) dengan side Merch tersebut.
Saya yang tidak terlalu berpengalaman dalam hal tersebut (yang bisa dibilang bisnis), tentu harus melawan berbagai masalah seperti margin, komisi online, dsb.
Alhasil bisnis tersebut dalam jangka panjang lebih banyak boncosnya dibanding untungnya. Dan dampak lainnya? Ya, main income saya dari YouTube pun cukup "terbengkalai" karena tidak dikerjakan secara maksimal lagi seperti sebelum-sebelumnya.
Rugi Merch itu bukan karena idenya jelek, tapi karena saya tidak kasih dia porsi yang benar. Nah lalu apa yang ingin saya share dari hal tersebut?
Dorongan untuk mencoba-coba karena bosan itu adalah hal yang sangat lumrah untuk setiap orang. Dan tentu saja hal ini pun berlaku dalam aspek investasi.
Di artikel sebelumnya saya sempat membahas tentang "Bandarmology" (disini jika belum baca). Dari situ kita lihat ada berbagai aliran dan cara analisis dalam investasi saham, seperti bandarmology, teknikal, atau fundamental.
Dengan pilihan yang cukup banyak, wajar kalau kita "gatel" ingin mencoba berbagai cara analisis, seperti contoh di atas yaitu ada semangat/"excitement" dari hal baru. Masalah biasanya muncul karena beberapa hal:
- Kita belum "stabil" di satu cara, sudah explore cara-cara yang lain.
- Kita "terlalu cepat" untuk mengalokasikan usaha ke hal yang belum terlalu kita pahami.
Masalah 1: Belum Stabil, Sudah Pindah
Misal kita sedang belajar analisis teknikal (chart, grafik, volume, dll), dan kita sudah mempelajari beberapa pola yang terjadi, entah dalam satuan candlestick-nya atau pola gabungan beberapa candle.
Disaat belum merasa stabil menemukan pola yang cocok dalam analisis dengan cara tersebut, kita sudah belajar indikator lain seperti MA, RSI, dsb.
Atau misal fundamental (yang jadi core dari saya sendiri), belum menemukan metode yang cocok untuk analisis mikro per sahamnya (dan ini juga mau mengambil dari angle mana, misal profit, cashflow, dsb), sudah mau mempelajari kondisi makro secara detail.
Dampaknya apa? Kita akan burnout sendiri. Bingung metode dan cara mana yang sebenarnya works, karena kita tidak punya cukup data (parameter) untuk menentukan suatu hal "pantas atau tidak".
Solusi yang baik: walau saya aliran generalis, tetap perlu "cukup spesialis" di satu hal dulu sampai kita menemukan sweet spot-nya bagaimana.
Misal fundamental/value investing, saya akhirnya memakai 3 parameter penting yang diturunkan sebagai fondasi analisis saya seperti yang dibahas di Ebook ProfitWise.
Darimana saya mendapatkan hal tersebut? Tentu setelah trial cukup lama dengan satu metode dan meng-kurasi "cara-cara lain" yang akhirnya tidak cocok dengan style analisis saya.
Masalah 2: Terlalu Cepat Mengalokasikan Effort
Ini yang saya lakukan ketika membuka bisnis Merch sebelumnya: membuat konten sosial media sendiri, ngiklan sosmed & ecommerce, dengan harapan bisa growth cepat, juga cari vendor untuk bikin jumlah banyak agar margin lebih tebal.
Dampaknya, effort dari hal core sebelumnya harus terbagi dan akhirnya kehilangan sweet spot atau "titik kesetimbangannya".
Apa pelajaran yang bisa saya dapatkan? Kalau mau "mencoba hal baru", alokasikan lah effort tersebut secara perlahan.
Misal saya mau bikin merchandise dari channel tersebut, mungkin lebih baik dengan sistem Pre Order di awal & marketing-kan hanya ke audience atau penonton saya saja dahulu. Toh saya punya audience 50rb/hari, rasanya dapat 0,1% pun masih bisa dapat 50 customer.
Konsisten seperti ini sampai menemukan polanya, entah dari video apa yang memiliki konversi baik, desain yang seperti apa, baru lah explore dan expand ke hal lainnya.
Juga berlaku dalam investasi saham. Banyak yang curhat berkata karena saya alirannya investasi (jangka panjang) yang mayoritas buy and hold, biasanya akan sulit dilakukan oleh trader karena bawaannya selalu gatel untuk transaksi mulu.
Solusinya gimana? Kita bisa porsikan 2 hal berbeda tersebut.
Misal sudah profitable di trading, maka 80% modal pakai di rekening trading dan silakan transaksi seperti biasa disana. Sisanya 20% baru pakai untuk investasi jangka panjang. Ini bisa juga sebaliknya kalau fokus utamanya mau di investasi (80% invest, 20% trading).
Pemisahan alokasi tersebut agar keputusan bisa "berjalan sendiri-sendiri" dan tidak berantakan. Excitement tetap dapat, tapi ada batasan yang jangan dilanggar (walau sebenarnya itu aturan sendiri dan tidak masalah dilanggar, tapi masa aturan yang dibuat sendiri saja tidak bisa commit? 馃榿).
Kalau ditarik lebih jauh, ini sebenarnya alasan kenapa porto saya sendiri terbagi menjadi 3 kategori: Core, Growth, & Spekulasi, dimana setau saya tidak banyak investor yang benar-benar men-state kategori portonya seperti ini.
Alasannya sama, jiwa generalis saya yang selalu pengen nyoba banyak hal. Daripada dorongan tersebut saya biarkan liar dan nyampur ke mana-mana, saya kasih tiap hal "porsinya sendiri".
Saham Core buat fondasi yang saya pegang paling yakin dan paling besar. Growth sebagai akselerasi dimana potensinya lebih tinggi (hasil analisis juga lebih yakin) namun risikonya juga naik.
Dan Spekulasi, porsi paling kecil, high risk & high reward, kalau cuan bisa multibagger cepat, kalau drop bisa dalam! Dan spekulasi inilah yang menjadi tempat resmi bagi saya untuk "menyalurkan rasa coba-coba" dan penasaran tadi, dengan alokasi yang sudah saya batasi ketat sejak awal.
Ide ini datang ketika saya juga masih suka termakan oleh "noise" dan pom-pom di media. Ketika ramai saham A dibicarakan, bias saya muncul dan tidak mau ketinggalan (FOMO).
Dulu saya bakal masuk dengan modal yang ada saja, dan seringkali rugi pun besar. Namun dengan membuat kategori spekulasi, KALAUPUN ada saham seperti itu yang mau "saya coba-coba", saya bisa masukkan di kategori spekulasi.
Bagi investor yang sudah pesan Ebook ProfitWise, ini seperti studi kasus dari PANI lalu. Walau sekarang saya sangat membatasi dan hampir tidak pernah melihat saham-saham hasil pom-pom seperti itu.
Terkait excitement untuk mencoba suatu hal tersebut, memang lawannya adalah rasa bosan. Dan sebenarnya dalam aspek investasi, kebosanan adalah hal yang baik, karena berarti kita bisa tinggal tidur dan tenang dengan hasil investasi kita.
Terkait investasi membosankan pun pernah saya bahas sendiri di artikel terpisah ya.
Jadi cara "melawan bosan" itu bukan pada akhirnya selalu berada di zona nyaman mode monoton tersebut selamanya dan akhirnya tidak berkembang (coba-coba). Tapi kasih tempat yang benar untuk rasa tersebut, agar tidak mengkanibal (merusak) yang lain.
3 Parameter Penting & 3 Kategori Porto yang saya sindir di Catatan Investor ini saya bahas di Ebook ProfitWise ya.
馃憠 Pelajari Ebook ProfitWise: Metode FCDS-T
Stay Iqra.
Salam, Gh Portfolio
馃摡 Mau Dapat Catatan Investor Rutin di Email?
Kalau investor mau dapat tulisan seperti ini secara rutin, bisa join newsletter langsung di website GH ya.