馃搱

IPO ARA Bukan Karena Ritel FOMO: Mekanisme Bandar & Underwriter

Ringkasan

Kenapa saham IPO Juli 2026 kompak Auto Reject Atas padahal IHSG lagi crash? Membedah mekanisme underwriter/bandar di balik ARA, realita cuan kecil buat ritel, dan benang merahnya ke isu MSCI.

Tanggal
July 14, 2026

Edisi 14 Juli 2026 路 6 menit baca

Halo investor,

Cukup banyak pertanyaan masuk soal saham IPO belakangan ini. Bulan Juli 2026 sendiri sudah ada 6 emiten IPO: JECX, JELI, EMMI, BACH, PRDL, dan RANS. Dan tentu saja hampir semuanya langsung Auto Reject Atas (ARA) di hari perdagangan perdana.

Mungkin pertanyaannya, padahal IHSG sedang di masa crash tetapi kok saham-saham baru IPO ini cenderung malah ARA berturut-turut? Apakah karena ritel berbondong-bondong untuk borong?

Jawabannya, belum tentu.

Mekanisme IPO

Untuk perusahaan IPO itu biasanya ada beberapa step, disini saya buatkan singkatnya saja ya:

  1. Misal perusahaan RANS dikatakan butuh 429 Miliar untuk ekspansi bisnisnya.
  2. Perusahaan biasanya akan menunjuk penjamin emisi (underwriter) pada Sekuritas, di case RANS adalah Trimegah Sekuritas.
  3. Dari situ setelah penghitungan didapat perusahaan melepas 2,5 Miliar lembar saham di harga Rp 170.
  4. Namun, ada problem untuk menjual sekian miliar lembar ke publik, karena investor publik (terutama ritel pada IPO) biasanya tidak peduli dengan fundamental sahamnya. Mereka hanya melihat hype apakah akan naik-turun.

Dengan hal seperti itu maka biasanya muncul "solusi bandar" atau istilahnya, pasar bagi pihak underwriter atau kolaborator tadi:

  1. Penjamin emisi akan tetap memegang HAMPIR SEMUA dari lembar saham.
  2. Ritel yang ikut IPO hanya dikasih sedikit saja. Order 1.000 lot, mungkin hanya dapat 1 lot 馃槄, hayo investor yang ikutan IPO dapat berapa?
  3. Saat listing dan mulai open public di bursa, bandar tersebut akan memasang bid tebal di harga ARA. Dan ini juga yang terjadi di hampir semua saham IPO bulan Juli ini, bagaimana gap di bid offer yang terjadi.
  4. Dan karena tidak ada pihak lain yang jual (ritel), toh mayoritas lembar saham masih di tangan bandar, maka tentu saja ritel yang "FOMO" akan beli di harga ARA, dan itu yang membuat harganya banyak ARA di awal listing. Sekali lagi, ini juga yang saya jelaskan di Ebook ProfitWise, kalau naik-turun saham itu seperti prinsip ekonomi *supply-demand yang turunannya, persis seperti pelelangan, makanya dinamakan bid & offer*.
  5. Nah ketika ARA sudah terjadi, masuk ke bahasan "noise" media dimana semua orang mulai membahasnya. Media, broker, bahkan finfluencer yang ikut-ikutan pun sama. Ritel yang IPO pun ikutan pamer di sosmed, dampaknya?
  6. Tentu saja ritel lain yang ga ikutan akan FOMO dan masuk di harga ARA.
  7. Perusahaan dapat dana sesuai target (bahkan bisa di atas karena case FOMO tadi), bandar dapat pembeli, dan ritel awal dapat ARA.

Terlihat kalau ini adalah win-win solution untuk semua pihak. Namun sebenarnya hal seperti ini tidak ada hubungannya dengan demand asli dari investor publik.

Realita Angka untuk Ritel

Menariknya, di hari pembukaan itu banyak yang harga sahamnya naik mencapai +30% sampai +40%, bahkan ada yang lebih. Tapi, ritel yang memegangnya hanya memiliki nilai kecil sekali!

Contoh: ritel yang cuma dapat 1 lot (100 lembar) di harga Rp 170. Naik ARA jadi Rp 245, maka profitnya (245-170) x 100 = Rp 7.500! Walau dari nominal persentase & HEADLINE "terlihat" besar.

Lalu siapa yang cuan besar? Tentu saja mereka yang memegang jutaan lot sejak awal. Siapakah mereka? Tentu saja bukan ritel setelah diperdagangkan publik seperti skema yang kita lihat di atas 馃榿.

Bahkan risikonya pun tidak butuh waktu lama untuk kita melihatnya, karena hari ini (saat email ini ditulis 13 Juli) mayoritas saham IPO tersebut malah kembali ARB dari tertingginya tersebut. Di saat 13 Juli tersebut IHSG sedang kondisi hijau alias naik. Bukankah itu lucu?

Siapakah "korban"-nya? ALWAYS korban akan selalu ritel FOMO yang telat masuk dan beli di harga puncak, inilah yang saya bilang sebagai "the last greater fools".

Nyambung ke MSCI

Ini bagian yang menarik. Beberapa waktu lalu saya sempat bahas soal MSCI + saham konglo.

Dimana praktik ARA IPO ini sebenarnya sudah jalan bertahun-tahun, jauh sebelum era Pandemi. Tahun 2023 aja ada 80+ IPO di BEI, mayoritas juga naik ARA di hari perdana. Dan ini menjadi salah satu alasan kenapa banyak ritel yang menunggu datangnya IPO, karena hype dan sentimen yang dibangun.

Namun dulu, MSCI tidak ada protes apa-apa. Kenapa? Karena tentu saja sekelas MSCI tidak akan peduli dengan perusahaan dengan market cap mini seperti para IPO atau gorengan-gorengan lainnya, yang biasanya under triliun bahkan hanya miliaran. Mereka hanya track saham dengan cap jumbo + likuiditas yang tinggi.

Lalu apa yang menyebabkan MSCI "protes" sampai menjadi trigger IHSG harus koreksi sampai -40%? Tentu saja karena beberapa tahun belakangan ini yang IPO itu bukan "perusahaan biasa", melainkan "saham konglo" yang dinaikkan sampai market cap ratusan triliun! Tentu saja hal tersebut pada akhirnya masuk ke radar MSCI dan menjadi salah satu concern utama terkait coordinated trading yang juga sudah saya bahas di artikel newsletter Gh sebelumnya.

Maka apa yang bisa dijadikan pelajaran dari "praktik seperti ini"?

Kalau saya prinsipnya akan tetap sama. Yaitu fokus ke individu saham dan ke fundamentalnya. Walau pasar pasti akan selalu bergonjang-ganjing dalam jangka pendek. Tetapi dalam jangka panjang, hanya perusahaan dengan laba konsisten, valuasi wajar, dan bisnis real lah yang akan survive dalam kondisi seperti apapun.

Sekian untuk Newsletter kali ini. Kalau investor mungkin tertinggal atau ingin membaca newsletter Gh di edisi-edisi sebelumnya, bisa dibaca disini ya:

馃憠 Artikel Newsletter Gh

Stay Iqra.

Salam, Gh Portfolio

馃摡 Mau newsletter seperti ini rutin di email?

Kalau investor mau dapat tulisan seperti ini secara rutin, bisa join newsletter langsung di website GH ya.

馃憠 Kunjungi ghanifaza.com