馃搳

Market Insight: Saham IPO, MSCI, dan Risiko Turun ke Frontier Market

Ringkasan

Pandangan soal dua topik panas: kapan saham IPO layak masuk (dan game mana yang kamu mainkan), serta apa dampaknya kalau Indonesia turun dari Emerging ke Frontier Market versi MSCI.

Tanggal
June 26, 2026

Edisi 26 Juni 2026 路 9 menit baca

Halo investor,

Topik yang sedang ramai beberapa waktu terakhir adalah terkait saham IPO baru dan tentu saja keputusan dari MSCI. Nah disini saya akan menjelaskan sedikit pandangan saya terkait dua hal tersebut ya.

Saham IPO, Boleh Masuk atau Tidak?

Jawaban singkat: ya boleh dong, kan itu keputusan masing-masing. Namun kalau bisa putuskan dulu akan bermain di game yang mana.

Misal investor mau bermain di jangka panjang, maka sudah jelas perlu pahami dulu bagaimana bisnis dari saham IPO tersebut. Caranya dengan cek saja Prospektus perusahaan lalu lihat bagian laporan keuangan.

Cek apakah kinerja fundamentalnya baik atau tidak? Growth-nya bagaimana? Keuangannya bagaimana? Jika sudah, cek kembali apakah valuasi yang ditawarkan itu masuk akal tidak dari kondisi keuangannya tersebut? Misal rata-rata sektor tersebut punya PER 5-15 namun harga awal yang ditawarkan di atas rata-rata, maka lihat dahulu apakah profil risiko investor cocok atau tidak? Kalau punya Ebook ProfitWise bisa pakai Metode FCDS-T-nya untuk menganalisis saham tersebut.

Kalau tidak mau baca prospektus, maka silakan main di game berbeda dan bukan untuk jangka panjang. Karena saham dalam jangka panjang itu hanya dapat dilihat dari bisnisnya bagaimana. Ingat beli saham = beli bisnis.

Untuk game kedua, investor bisa "membeli sentimen". Di sini fokusnya bukan pada kinerja bisnis, melainkan momentum dari sentimen pasar bagaimana. Mana yang sedang hype dan banyak dibahas orang, masuk disitu.

Syaratnya: investor WAJIB siapkan exit plan sebelum masuk. Misal harga terbang dan naik, sudah punya Take Profit di harga berapa, juga sebaliknya, jika harga turun sudah ada harga untuk cut-loss.

Seringkali yang bikin nyangkut dari saham jenis IPO ini bukan karena sahamnya salah, tapi emosi investornya. Ketika sudah cuan besar ratusan % karena hype, pasti kita bawaannya mau setor tambah modal dan "berandai-andai", "kalo saya masukin modal 10x lipat padahal saya bisa untung segini". Alhasil average up atau tambah muatan terus di atas sampai akhirnya ketika euforia/momentum habis? Ya nyangkutnya makin besar. Atau juga sebaliknya, ketika harga turun malah terbawa emosi dengan merasa "makin diskon nih mantap, tambah ah". Dan terpaksa jadi seorang investor untuk saham yang mungkin memang tidak layak investasi jangka panjang.

Di game momentum ini, exit yang disiplin lebih penting dari waktu entry yang sempurna, seperti para trader.

"Kok saya bisa menyarankan game momentum disaat utamanya saya adalah fundamentalis/value investor?" Tentu ini bukan menyarankan, namun lebih ke insight saja kalau kita sebagai investor bisa juga loh memanfaatkan momentum dan mencari peluang/opportunity yang ditawarkan pasar. Namun juga sebagai investor tetap harus terukur risikonya.

Saya sendiri kalau bermain di game tersebut sudah pasti alokasinya akan kecil, karena ya sudah jelas itu bukan style saya di saham. Saya juga bukan tipe yang rajin mantengin media-scroll-scroll untuk melihat mana saham yang sedang hype dsb. Makanya sesuaikan dengan profil risiko investor ya.

MSCI dan Risiko Turun ke Frontier Market

Update singkat dari MSCI Market Classification Review 23 Juni 2026:

Indonesia bertahan di Emerging Market untuk sekarang. Tapi review berikutnya di November 2026, dan kalau dianggap reformasi bursa belum cukup efektif (terutama soal coordinated trading di saham tertentu), Indonesia berisiko turun ke Frontier Market.

Terkait coordinated trading ini simpelnya adalah "adanya aksi 'goreng-menggoreng' saham" di dalam bursa efek kita yaitu BEI. Walau ini masih dugaan, namun saya pernah membahas contoh menariknya disini. Sekali lagi ini dugaan ya, bukan 100% pasti benar.

Namun yang mungkin jadi pertanyaan adalah, kalau Indonesia turun ke Frontier, dampaknya gimana?

Tentu dampaknya akan cukup besar. Terutama dari image pasar modal Indonesia di kancah internasional. Juga indeks seperti MSCI atau kemarin FTSE pun serupa, akan berpengaruh pada "robot index" alias passive index funds/smart money. Apa maksudnya?

Robot index ini adalah dana-dana institusi global yang memilih saham berdasarkan benchmark yang ditentukan oleh index-index yang ada, seperti MSCI tadi dengan misal benchmark Emerging Markets pun masuk di dalamnya. Masuk untuk apa? Ada banyak fund global yang memang tugasnya untuk mencari saham-saham di "Emerging Markets Only". Dan jika saham di Indonesia turun dari Emerging Markets ke Frontier Markets, tentu saja para fund ini WAJIB menjual seluruh holding-nya di Indonesia. Hal ini tidak ada hubungan dengan fundamentalnya bagaimana, melainkan memang sudah aturannya saja.

Itu sebabnya kalau melihat data, walaupun IHSG sempat naik dari bottom 5.342 ke 6.101, namun asing tetap net sell mencapai Rp 69,7 triliun YTD (lebih besar dibanding Rp 61,8 triliun di 8 Juni). Untuk saat ini mereka konsisten jualan karena antisipasi worst case scenario yang mungkin terjadi di November kalau regulasi kita tidak benar-benar "reformasi".

Namun (dan ini bagian penting), dampak ke setiap saham individual tentu tidak akan sama. Saham yang kepemilikan domestik dan banyak dipegang oleh investor fundamental untuk jangka panjang biasanya tidak akan langsung terkena dampak seperti saham-saham yang banyak disetor oleh para fund tersebut.

Contoh, kenapa big bank terdampak sangat parah selalu kalau ada isu global/geopolitik? Karena mereka termasuk TOP market cap di Indonesia dan juga punya volume besar sehingga LIKUID. Likuiditas ini yang seringkali jadi alasan para fund untuk masuk. Perlu di-notes, fund ini serupa seperti smart money juga ya, termasuk institusi besar yang tidak hanya memegang Miliaran melainkan bisa sampai Triliunan untuk disetorkan ke pasar modal manapun.

Jadi, ketika asing net sell besar-besaran, biasanya yang akan terdampak paling dulu adalah saham dengan valuasi besar juga. Karena bukankah aneh disaat bisnisnya aman-aman saja, tapi harga sahamnya malah turun sangat dalam seperti yang dibahas di Watchlist Gh juga. Bagaimana perusahaan profit +10% tapi harga sahamnya -30%? Itulah salah satu dampak dari fund/smart money ini.

Lalu bagaimana dengan BREN? Untuk BREN sebenarnya cukup berbeda. Walau tentu dia terdampak dari net sell biasa karena valuasinya termasuk paling besar di Indonesia (sempat nomor 1), namun dia juga terdampak dikeluarkan MSCI karena beberapa faktor, dan tentu bisa jadi salah satunya yang kita bahas di coordinated trading barusan.

Lalu Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Tentu sesuai yang saya katakan di atas. Untuk saham yang mayoritas dipegang oleh investor fundamental long-term, biasanya tidak akan terkena getah langsung dari dampak passive fund/smart money tersebut. Dan itu pula alasan kenapa saya selalu fokus ke INDIVIDU dari SAHAM. Serta itu pula privilege kita selaku individual investor yang tidak memiliki penilaian-penilaian seperti para fund manager.

Toh disaat IHSG crash seperti ini (saat tulisan ini dibuat, IHSG turun kembali ke 5.900), tapi kenapa saham-saham di Watchlist Gh malah ada yang multibagger alias > +100%.

Saham Watchlist Gh multibagger saat IHSG crash
Saham Watchlist Gh multibagger saat IHSG crash

Atau ANTM yang walaupun sudah keluar dari index MSCI tetapi untuk ritel long-term masih floating profit cukup tinggi.

ANTM floating profit
ANTM floating profit

Tentu saja satu-satunya alasan masuk akal adalah karena saham-saham tersebut memang memiliki bisnis yang memang baik. Sebenarnya bagi saya, mau kondisi image atau index yang memberikan nilai buruk pada BEI biasanya hanya berpengaruh untuk jangka pendek saja. Namun dalam jangka panjang, mau bagaimanapun akan kembali ke perusahaannya masing-masing. Jika dia masih terus konsisten bertumbuh, ya lama kelamaan harganya akan naik juga. Ingat seperti bahasan di Ebook ProfitWise.

Jika ada saham A yang bisa menghasilkan Omset/Revenue 100 Miliar/tahun dan dihargai Rp1.000/lembar sahamnya, ketika Omsetnya naik menjadi 200 Miliar/tahun, rasanya tidak mungkin harga sahamnya akan tetap dihargai sama bukan? Secara logis saja kita invest ke bisnis teman kita pasti akan memilih yang lebih menguntungkan bukan?

Untuk 2 saham di atas perlu di-notes kalau saat ini kondisi IHSG masih crash loh, tetapi tetap bisa memberikan keuntungan sebesar itu. Bagaimana kalau pasar sudah kembali normal? Dari pengalaman 10 tahun investasi, perusahaan bagus lah yang akan terbang paling cepat ketika rebound.

Dan kebetulan Paket Investor Serius untuk Langganan 1 Tahun kembali dibuka ya. Dapatkan Watchlist edisi terbaru + Ebook ProfitWise dengan potongan Rp1.000.000! Bisa klik link di bawah ya.

馃憠 Paket Investor Serius: 4 Edisi Watchlist + Ebook ProfitWise

Sebagai penutup, asing sudah jualan habis-habisan sejak Januari lalu. IHSG juga sudah turun cukup dalam. Justru kalau November nanti MSCI mempertahankan Indonesia tetap di Emerging Markets dengan nada yang lebih ramah, kemungkinan besar asing akan masuk lagi. Dan ketika asing masuk, fund/smart money tersebut akan mendongkrak IHSG, dan tentu saja yang saat itu sudah hold saham fundamental (dan beli di harga diskon) akan paling diuntungkan.

Stay Iqra.

Salam, Gh Portfolio

馃摡 Mau newsletter seperti ini rutin di email?

Kalau investor mau dapat tulisan seperti ini secara rutin, bisa join newsletter langsung di website GH ya.

馃憠 Kunjungi ghanifaza.com